Tuesday, October 9, 2007

Pusat Krisis Terpadu RSCM,apa kabarmu?


Pusat Krisis Terpadu RSCM,apa kabarmu?

Oleh:Titiana Adinda

Semenjak Pusat Krisis Terpadu untuk Perempuan dan Anak Korban Kekerasan berdiri di RSCM 7 tahun yang lalu sudah 4000-an kasus kekerasan yang ditangani oleh mereka.Korban yg datang rata-rata menderita luka fisik.Yang terparah adalah seorang korban yang ditusuk gunting matanya oleh suaminya sehingga harus dioperasi.

Pusat Krisis Terpadu (PKT) RSCM ini adalah awal terbentuknya PKT-PKT lain di Indonesia.Ini berawal dari study tour beberapa orang atas kerjasama Komnas Perempuan dan UNFPA ke negara-negara ASEAN.Salah satunya ide PKT ini semula ingin meniru One Stop Crisis Centre di Kuala Lumpur Malaysia.Dimana ada dokter,perawat,psikolog,pekerja sosial yang bekerja secara bersamaan dan One Stop Crisis Centre ini buka selama 24 jam.

PKT RSCM menempati sebuah ruangan di lantai dua tepat di atas UGD RSCM.Namun dalam perjalanannya PKT kesulitan dana.UNFPA menyetop kucuran dana operasional kepada PKT.Dana dari Kementrian Pemberdayaan Perempuan juga sangat minim,dana dari PEMDA DKI hanya untuk membiayai biaya operasional saja tanpa membayar gaji pegawainya.Dana dari Departemen Kesehatan apalagi tidak ada dana sepersenpun dari Departemen Kesehatan untuk PKT ini.Alhasil cita-cita yang semula PKT RSCM sekaligus memperkerjakan dokter,perawat,psikolog dan pekerja sosial.Kini hanya mesti bergiliran kadang hanya dokter dengan perawat saja tanpa pekerja sosial.Atau dokter saja dan pekerja sosial saja tanpa perawat.

Sebagai warga masyarakat saya mau menggugat pemerintah yang tidak memberikan perhatian kepada fasilitas untuk perempuan dan anak korban kekerasan ini khususnya gugatan ini diajukan kepada Kementerian Pemberdayaan Perempuan,Departemen Kesehatan,dan PEMDA DKI.Juga memuntut perhatian kepada DPR dan DPRD untuk mengalokasikan anggaran khusus untuk PKT RSCM ini ke dalam APBN/APBD.

Jika perhatian dan dukungan tidak diberikan kepada pihak-pihak tersebut.Maka bukan mustahil PKT RSCM hanya tinggal kenangan saja.Dan komitmen negara untuk penghapusan kekerasan terhadap perempuan dan anak korban kekerasan wajib dipertanyakan.

Lalu sudah saatnya sektor swasta juga memperhatikan masalah ini.Saya rasa ini bisa menjadi bagian dari Coorporate Sosial Responsibily (CSR) Perusahaan swasta.Atau mungkin juga kita sebagai individu harus memperhatikan fasilitas ini.

1 comment:

emojazz said...

Keperdulian itu ternyata mahal.
Mngingat orang lain itu ternyata susah.
Menjaga Lingkungan itu berat.
Mengingat Kebaikan orang itu kadang menjadi beban.
Bersedekah itu kadang dilupakan.
Meminta Maaf itu suatu kemewahan.
Memaafkan orang dianggap pengecut.
Ridho itu sering hanya dimulut.
Legowo itu bahkan sudah langka.

"OJO DUMEH"