Monday, April 30, 2018

Joko dan Jenar Jalan-Jalan



http://sikancil.org/joko-dan-jenar-jalan-jalan/

Kemunculan penerbit buku anak independen di Indonesia sungguh menyenangkan. Mereka membawa angin segar bagi cerita anak kita dengan pilihan tema, gaya ilustrasi, dan format cerita yang berbeda.

Pembaca SiKancil tentu menyadari, banyak rekomendasi kami yang merupakan karya penerbit buku anak independen, seperti Litara, Aksa Berama Pustaka, dan Seumpama. Nah, buku pilihan kali ini juga karya penerbit independen yang patut kita dukung: Saga Press.

Hadir dalam ukuran besar yang memaksimalkan ilustrasi, “Joko dan Jenar Jalan-Jalan” menyajikan cerita dalam dua lapis: penuturan yang disampaikan oleh teks, dan yang dihadirkan lewat gambar yang memperkaya cerita.

Lewat teks, kita diperkenalkan pada dua anak sepupu: Joko dan Jenar. Mereka akrab dan kerap menghabiskan waktu bersama, terutama jalan-jalan ke mal!
Namun, kecelakaan yang menimpa Jenar di rumah membuatnya harus kehilangan kemampuan berjalan kaki.

Joko yang ingin menghibur Jenar mengajaknya jalan-jalan. Jenar sangsi ia bisa bersenang-senang dengan sepupunya seperti dulu.

Dugaan Jenar benar. Bagi seseorang di kursi roda, mal bukan lagi tempat yang menyenangkan. Tentu, ia merasa sedih.

Sang bibi pun mengusulkan tempat lain. Di manakah itu?

Sebuah taman besar dengan akses bagi pengguna kursi roda. Tak kalah menyenangkan dari mal!
Nah, dari segi gambar, ada sejumlah aspek cerita yang disampaikan dengan indah. Pertama adalah keluarga Joko dan Jenar yang berbeda kepercayaan, namun memiliki hubungan sangat dekat. Ini tak disebut di teks, tapi bisa ditangkap sendiri oleh pembaca saat melihat jilbab Jenar dan ibunya, serta cara Joko berdoa bagi kesembuhan Jenar.

Saya yakin tak sedikit anak yang akan merasa gambaran ini mewakili keluarga mereka. Keluarga besar saya pun demikian: ada yang penganut Kristen, Islam, Buddha, dan Katolik. Inilah keluarga Indonesia!

Hal lain yang disajikan apik lewat ilustrasi adalah bagaimana orangtua Joko dan Jenar selalu mendampingi anak-anak mereka. Joko dan Jenar tidak berjalan-jalan sendiri, karena orangtua mereka senantiasa hadir di dekat mereka. (Cek spread di atas!)

Ketiga, ilustrasi juga menyampaikan keindahan tempat baru yang bisa dikunjungi Jenar setelah berkursi roda. Tanpa menyebut kata “taman”, ilustrasi menampilkan luasnya ruang gerak dan cantiknya lingkungan yang ramah bagi pengguna kursi roda – lengkap dengan “bidang miring,” istilah penting bagi pembaca cilik untuk memahami inklusivitas.

Dan memang, inklusivitas adalah napas cerita ini. Perbedaan agama maupun kemampuan fisik ditampilkan secara alami, karena pada intinya, ini adalah cerita tentang dua sahabat yang suka jalan-jalan bersama, dan ingin tetap begitu.

Bacakan buku ini untuk anak yang mulai tertarik dengan cerita dan gambar. Untuk anak yang sudah lebih besar, biarkan ia  membaca untuk Anda, lantas sambutlah berbagai komentar dan pertanyaan darinya – karena pendidikan inklusivitas tak mengenal istilah terlalu dini.

Herdiana Hakim


PS. Ingin memiliki “Joko dan Jenar Jalan-Jalan”? Kontak langsung Saga Press di nomor WhatsApp mereka: 0882 1039 7033.