Wednesday, March 19, 2008

Aku diwawancara Radio Belanda ttg bukuku....

Sore tadi aku dapat telepon dari luar negeri ke HPku, ternyata itu dari Radio Netherland yang pingin wawancara aku soal bukuku. Pewawancara tertarik pingin tahu motivasiku menulis buku itu dan juga lebih banyak bertanya ttg bahasan kekerasan terhadap perempuan yang aku tulis di dalam bab I buku tsb. Lama juga sih wawancaranya sekitar 15 menit itupun terjadi dua kali yaitu pukul 17.00 WIB dan dilanjutkan pukul 19.00 WIB karena aku harus mandi dulu. Maklum ketika ditelepon yang pertama aku sudah siap-siap mau mandi.He..He..Jadi aku minta supaya mereka menelponku untuk wawancara lagi jam 19.00 nanti. Untung mereka mau juga...He..He..

Aku juga sedikit heran dan takjub sih, ternyata bukuku udah sampai di Belanda juga ya? He..He.. Terima kasih Tuhan atas karuniaMu ini. Membuat bukuku juga dibaca oleh orang Indonesia yang bermukim di Belanda....

Liputan Self Defense For Women dan bukunya di NOVA

Dear All,

Ini cuma info aja Minggu ini ada berita tentang latihan self defense for women dan bukunya di tabloid NOVA. Beli dan baca ya? Makasih banget...

Salam hangat,

Dinda

Sunday, March 2, 2008

Ketika Perempuan Ngerumpi



Resensi Buku

Judul buku : Bordir – Embroideries

Penulis : Marjane Satrapi

Penerbit : Gramedia Pustaka utama

Ukuran : 14 x 19 cm

Tebal : 136 halaman

Terbit : April 2006

Harga : Rp 35.000,-

Ketika Perempuan Ngerumpi

Oleh: Titiana Adinda

Aku mendapat hadiah sore itu dari sahabatku 7 buah buku semuanya menarik dan cantik sampulnya rata-rata bercampur aneka warna. Tetapi koq tidak dengan buku yg satu ini. Warnanya yg coklat muda dengan sampul buku sangat sederhana yaitu hanya gambar seorang perempuan saja. Kemudian aku baca judulnya Embroideries; Bordir dengan nama penulisnya Marjane Satrapi. Lalu kuteringat bukankah Marjane itu adalah novelis grafis terkenal dari Iran? Yang salah satu kayanya difilmkan dan muncul di ajang Jiffest tahun 2006 lalu?

Lalu kubaca sampul belakangnya cukup menarik sekali ceritanya tentang acara para perempuan ketika minum teh yang bercerita tentang cinta, seks, dan segala tingkah pola pria. Mereka bertukar cerita tentang keperawanan, cara meloloskan diri dari kawin paksa, operasi plastik dan menjadi perempuan sempurna.

Aku tak sabar ingin segera membacanya lalu kubuka pembungkus plastiknya. Aha...aku ternyata akan membaca satu novel grafis. Grafis /Gambarnya cukup bagus, dicetak diatas kertas khusus lagi, bukan kertas HVS biasa seperti di buku-buku lainnya. Berkat kertas itu pula grafis Marjane Saptrapi terlihat sangat bagus sekali.

Lalu mulai kubaca lembar demi lembar novel grafis itu, benar kata disampul belakang buku itu novel grafis ini akan membawa kita seolah-olah berada ditengah-tengah para perempuan ini, ikut berbagi cerita, dan mendengarkan topik-topik yang salah satu diantaranya pernah dialami perempuan di manapun. Ini adalah salah satu kegiatan ngerumpi para perempuan yang sangat bagus topik pembicaraannya.

Aku sambil membaca suka senyum-senyum sendiri kenapa? Karena hal yang kita anggap tabu untuk dibicarakan secara terbuka dibicarakan disini. Misalnya saja digambarkan seorang perempuan yang sudah kehilangan keperawanannya sebelum menikah mendapatkan saran:

“ Ini ambillah pisau silet ini. Nanti pada pada malam pertama, rapatkan kedua pahamu erat-erat, lalu menangislah dengan keras, dan kalau sudah waktunya, gores kulitmu sedikit, sedikit saja! Kau akan berdarah sedikit. Dia akan bangga dengan kejantanannya dan kehormatanmu tetap terjaga.”

Hal itu tentu saja membuatku tersenyum. Ternyata sama halnya dengan di Indonesia mitos keperawanan sangat masih kental terasa. Sehingga apabila seorang perempuan tidak berdarah di malam pertamanya maka para perempuan sangat takut kalau disangka tidajk perawan lagi.

Banyak hal yang sama persis penggambaran kondisi yang dialami oleh perempuan-perempuan Iran dengan perempuan-perempuan di Indonesia yang digambarkan dan diceritakan dalam novel grafis ini. Diantaranya adalah persoalan operasi pelangsingan tubuh dan payudara. Yang lucunya dan membuatku tertawa kecil adalah penggambaran bagaimana seseorang dalam novel itu bercerita bagaimana dia melakukan operasi penyedutan bokong dan pinggulnya yang sudah tertimbun banyak lemak,lalu lemak tersebut dia pindahkan ke payudaranya. Katanya “ Tentu saja si tolol (laki-laki) bahwa setiap kali dia mencium payudaraku, sebenarnya pantatkulah yang diciumnya”....

Yang menarik isu tentang gay juga dibahas di novel grafis ini di buku ini digambarkan bagaimana seorang ibu bercerita sambil bersedih tentang bagaimana pengalaman anak perempuannya yang ternyata menikah dengan seorang gay. Tetapi dialog si Ibu tersebut kepada sahabatnya sungguh mengejutkan karena sang Ibu justru bilang “ ...tapi baiklah disetiap kemalangan pasti ada sesuatu yang positif. Putriku masih perawan. Dia masih punya kesempatan untuk menikah lagi”.

Menurut penilaianku novel grafis ini sangatlah bagus untuk dibaca dan dimiliki. Isinya jelas sama dengan permasalahan yang kita hadapi sehari-hari. Bagus untuk dibaca para perempuan muda, yang beranjak dewasa. Aku tak heran kenapa di buku ini ditempel sebuah stiker dengan kata-kata “Dewasa”.Karena bahasa yang dipergunakan untuk menjelaskan segala sesuatunya cukup terbuka. Peterjemahan yang dilakukan oleh Tanti Lesmana sangatlah baik sehingga mudah dipahami oleh para pembaca.

Koreksiku hanyalah tidak adanya nomor pada setiap halaman sehingga untuk menulis resensi ini aku harus menghitungnya secara manual, serta ketidak konsesistenan dalam penterjemahan kata wanita dan perempuan. Sehingga kerap kali digunakan kata wanita sedangkan pada dialog yang lainnya digunakan kata perempuan. Dan satu lagi yang menjadi pertanyaan besar untukku kenapa buku ini tidak dicetak oleh percetakan milik Gramedia sendiri? Tetapi oleh PT.Ikrar Mandiriabadi, Jakarta.

Tapi yang paling penting buku ini telah menjawab pertanyaan dan menguak rahasia tentang perempuan. Sungguh novel yang sangat bagus. Marjane Satrapi telah mampu menghadirkan novel grafis yang sangat bermutu. Pantas saja dia dijuluki salah satu pendekar novel grafis.

Aku jadi bermimpi mudah-mudahan segera tampil seorang novelis grafis perempuan asal Indonesia yang sebaik Marjane Satrapi, yang akan menggambarkan kondisi memprihatinkan dari perempuan Indonesia.Ya semoga...



****