Wednesday, June 29, 2016

Waspada! 12 Tanda Kekasih Anda Berpotensi Jadi Pelaku KDRT

http://wolipop.detik.com/read/2012/06/11/190742/1938450/852/waspada-12-tanda-kekasih-anda-berpotensi-jadi-pelaku-kdrt#


Jakarta - Tidak ada wanita manapun yang ingin terlibat dalam hubungan asmara yang menyiksa secara psikis maupun fisik. Namun seringkali keadaan tidak terjadi seperti yang diharapkan. Saat pendekatan, mungkin si pria bertingkah laku sangat baik, perhatian dan ramah. Tapi siapa sangka setelah resmi berpacaran, sifat aslinya yang suka menyiksa atau abuser perlahan-lahan terkuak.

Jangan sampai Anda menjadi korban kekerasan oleh kekasih sendiri dan terjebak dalam cinta yang menyiksa. Kenali tanda-tanda awal pria yang punya kecenderungan menyiksa, seperti dikutip dari Your Tango.

1. Mengikat secara emosional di awal hubungan. Baru beberapa minggu resmi pacaran, dia sudah mengklaim kuatnya hubungan kalian dengan kata-kata seperti, "Aku tidak pernah merasa dicintai oleh orang lain seperti kamu mencintaiku." Pada awalnya, mungkin terdengar manis dan romantis tapi yang tidak disadari, dengan mengungkapkan kalimat semacam itu dia ingin ada keterikatan 'eksklusif' sehingga Anda akan terbebani untuk selalu memperhatikan dirinya.

2. Kecemburuan yang Berlebihan. Pasangan baru Anda menunjukkan sikap posesif yang ekstrem, menelepon setiap hari dan tiap menit, atau datang ke rumah secara tak terduga.

3. Mencoba mengontrol kehidupan. Dia selalu menginterogasi hal-hal detail tentang siapa pria yang barusan berbicara akrab dengan Anda, memaksa agar Anda minta izin setiap ingin pergi ke luar atau melakukan sesuatu, sampai mengecek semua telepon, SMS atau BBM yang masuk ke ponsel Anda.

4. Ekspektasi yang tidak realistis. Pria yang mengharapkan Anda jadi orang yang sempurna dan bisa selalu memenuhi semua keinginannya, juga merupakan tanda-tanda seorang abuser.

5. Isolasi merupakan salah satu ciri seorang penyiksa. Dia mencoba membatasi komunikasi Anda dengan teman-teman, rekan kerja bahkan keluarga sendiri. Dalam tahap yang sudah parah, dia bisa menghalangi Anda untuk sukses di dalam karier maupun hubungan sosial.

6. Menyalahkan orang lain atas kesalahannya. Baik itu atasan, keluarga, teman atau kekasih, dia selalu menyalahkan orang lain jika keadaan tidak berjalan sesuai yang diharapkan.

7. Membuat setiap orang merasa bertanggung jawab terhadap apa yang dirasakannya. Ciri penyiksa yang lainnya, adalah menjadikan dia sebagai objek penderita, bukan pelaku. Contohnya, memilih kata-kata seperti, "Kamu sudah membuat aku marah" bukan dengan "Ya, aku marah". Atau contoh lainnya, "Aku tidak akan semarah ini jika kamu tidak..."

8. Hipersensitif. Ciri dari hipersensitif adalah mudah merasa terhina. Dia cenderung gampang menyuaraka ketidakadilan terhadap segala masalah yang menimpanya, sekecil apapun masalah itu.

9. Jahat terhadap binatang dan anak-anak. Dia tak segan membunuh atau melukai bintang secara brutal. Kepada anak-anak, seorang abuser suka meminta mereka melakukan sesuatu di luar kemampuannya, atau menggoda mereka sampai menangis.

10. Suka menghina. Penyiksaaan tak selalu dalam bentuk fisik, tapi juga secara verbal. Berhati-hatilah jika Anda memacari pria yang selalu mengritik apa yang Anda lakukan atau tak segan mengeluarkan sumpah serapah yang kasar.

11. Mood yang berubah-ubah. Suatu waktu, dia sangat sayang, perhatian dan menjaga Anda. Namun beberapa jam kemudian dia bisa menjadi orang yang pemarah dan membentak Anda di tempat umum.

12. Mengancam melakukan tindak kekerasan. Saat marah dia seringkali melontarkan ancaman seperti, "Lihat saja, aku akan mematahkan lehermu," tapi setelah itu ia langsung meralat ucapannya dengan mengatakan, "Percayalah, aku tidak bersungguh-sungguh mengatakannya."

(hst/hst)

Saturday, June 11, 2016

Tuesday, May 31, 2016

Mengapa saya menolak Perppu kebiri

Oleh: Shera Rindra M. Pringgodigdo
Sejak wacana mengenai pemberatan hukuman bagi pelaku kekerasan seksual bergulir, beberapa pihak menghubungi saya untuk menanyakan sikap terhadap rencana tersebut.
Saat itu, terbersit keraguan untuk menjawab pertanyaan tersebut karena khawatir jawaban yang saya berikan tidak sesuai dengan harapan mereka; mendukung dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) No. 1 tahun 2016 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, atau lebih dikenal dengan Perppu Kebiri. Mungkin mereka berharap bahwa saya sebagai salah seorang penyintas kekerasan seksual akan mendukung kebijakan tersebut.
Setelah membaca dengan seksama Perppu tersebut, sikap saya jelas: Menolak beberapa poin di dalamnya, khususnya terkait dengan pemberatan hukuman mati dan kebiri. Namun saya sepakat dengan penambahan hukuman seperti minimal 25 tahun penjara dan maksimal seumur hidup dengan tambahan rehabilitasi pelaku yang diwajibkan melakukan konseling untuk perubahan perilaku, cara berpikir, serta refleksi pada kejahatan yang telah dilakukannya.
Akses keadilan bagi korban
Saya bercermin dari pengalaman saat menjadi korban pemerkosaan belasan tahun yang lalu. Problem utama dari kasus-kasus kekerasan seksual adalah sistem dan proses hukumnya. Proses hukum kita sangat bermasalah, mulai dari aparat hukum yang tidak memiliki perspektif korban, layanan hukum yang tidak ramah, penanganan kasus yang memakan waktu lama dan berbelit-belit, ditambah lagi dengan kebijakan yang tidak memakai kacamata korban.
Mungkin saya adalah salah satu korban yang “beruntung” karena kasus yang saya alami mendapat perhatian dari publik dan mendapat dukungan dari banyak pihak. Proses yang sebelumnya membuat saya seolah menjadi korban kedua kalinya seketika menjadi “lebih” baik ketika berbagai tekanan datang kepada aparat penegak hukum.
Namun, bagaimana dengan para korban yang kasusnya luput dari perhatian publik dan tidak mendapatkan dukungan? Berapa banyak korban yang dilecehkan oleh pihak kepolisian saat melapor dengan menyalahkan mereka karena keluar malam, pakaiannya, atau lainnya?
Berapa banyak korban yang ditawarkan untuk menempuh “jalan damai” karena menganggap bahwa ini adalah aib bagi korban? Berapa banyak korban yang “diperkosa” untuk kesekian kalinya oleh hakim dengan mengajukan pertanyaan yang menyudutkan korban? Belum lagi media yang mengeksploitasi korban dengan menjadikan kasus kekerasan seksual yang dialaminya sebagai sensasi.
Berapa banyak pelaku yang ditangkap dan menjalani proses hukum? Berapa banyak pelaku yang dijerat dengan hukuman maksimal?
Sudah menjadi rahasia bersama bahwa banyak korban kekerasan seksual yang memilih untuk tidak meneruskan bahkan melaporkan kasus yang mereka alami karena tidak percaya pada sistem dan proses hukum di Indonesia.
Kenyataan inilah yang saya temui juga saat menjadi pendamping beberapa korban kekerasan seksual. Beranjak dari pengalaman tersebut, saya melihat persoalan sebenarnya dalam kasus kekerasan seksual adalah sistem dan proses hukum yang tidak ramah pada korban. Seberat apapun ancaman hukumannya, jika proses hukumnya masih sama, maka kondisinya tidak akan jauh berbeda.
Menurut CATAHU 2016 yang dikeluarkan oleh Komnas Perempuan, kasus kekerasan seksual yang terjadi di ranah personal sebanyak 3.325 kasus, sementara yang terjadi di ranah komunitas sebanyak 3.174 kasus.
Angka kekerasan seksual yang dikeluarkan oleh Komnas Perempuan setiap tahunnya, hanyalah angka yang terlaporkan. Itu berarti jumlah kasus kekerasan yang sesungguhnya jauh lebih besar dari yang dikumpulkan. Angka tersebut ibaratnya pucuk dari gunung es.

Jika masih melihat bahwa hukuman mati dan kebiri sebagai solusi, justru pemerintah sudah salah paham melihat persoalan kekerasan seksual.

Penyebab kekerasan seksual bukan sekadar soal nafsu birahi, bukan sekedar soal penis dan vagina semata, namun persoalan relasi kuasa; ada orang yang merasa memiliki hak untuk menyerang tubuh orang lain. Karena kekerasan seksual bisa dilakukan oleh siapa saja, kepada siapa saja, kapan saja, di mana saja, dan dengan cara apapun selain penetrasi penis.
Persoalan lain dari Perppu ini adalah secara spesifik hanya untuk menyasar kekerasan seksual yang dialami oleh anak. Bagaimana dengan korban kekerasan seksual yang sudah dewasa? Apakah mereka sebagai korban sedemikian tidak pentingnya untuk mendapatkan perhatian dari pemerintah?
Keadilan bagi siapa?
Presiden Joko Widodo mengesahkan Perppu Perlindungan Anak yang di dalamnya tercatat hukuman mati dan kebiri bagi pelaku pemerkosaan anak.

Presiden Joko Widodo mengesahkan Perppu Perlindungan Anak yang di dalamnya tercatat hukuman mati dan kebiri bagi pelaku pemerkosaan anak.
Ditebitkannya Perppu ini disambut oleh beberapa pihak sebagai panasea yang mampu mengurangi bahkan menghapus kekerasan seksual di negeri ini. Mereka lupa bahwa kekerasan seksual adalah problem yang sistemik. Tidak bisa hanya diselesaikan dengan kebijakan hukum yang dibuat hanya untuk menakuti, namun tidak untuk mencegah persoalan kekerasan seksual. Menurut saya, hukuman mati dan kebiri bukanlah hukuman yang tepat dan tidak memberikan efek jera.
Bangsa ini memiliki masalah yang lebih besar dalam persoalan kekerasan seksual. Dalam berbagai kasus, tidak sedikit orang yang masih mencari-cari kesalahan pada korban. Seakan-akan itu menjadi upaya sebagai pembenaran atas kekerasan seksual yang dialami oleh perempuan dan anak.
Jika tidak ditemukan “kesalahan” pada korban, maka hal lain dicari-cari juga sebagai pembenaran atas kekerasan yang dilakukan oleh pelaku. Seperti, misalnya, apakah si pelaku mabuk minum-minuman beralkohol, memakai narkoba, punya kelainan jiwa, atau punya sejarah sebagai korban kekerasan juga. Yang pada akhirnya ini membuat kita lupa fokus serta gagal melihat akar dari kekerasan seksual yang sesungguhnya.
Masyarakat dan pemerintah juga masih menganggap bahwa ketika pelaku sudah dijerat dengan hukuman, maka masalah bagi korban sudah selesai. Seolah melupakan bahwa korban akan menanggung beban dan trauma seumur hidupnya.
Bagaimana dengan pemulihan bagi korban? Bagaimana agar ia bisa menjadi seorang penyintas? Bagaimana korban menghadapi stigma yang diberikan oleh masyarakat? Seakan proses hukum yang tidak ramah pada korban itu sudah memberikan keadilan, sudah bisa membuat korban pulih dan melangkah maju dengan lega, atau sudah menyelesaikan problem kekerasan seksual secara keseluruhan.
Perppu ini, menurut saya, hanya “solusi instan” yang justru menggambarkan wajah sebagian masyarakat Indonesia, yang masih menganggap kekerasan adalah solusi untuk segalanya. Menyelesaikan kekerasan dengan kekerasan. Bagi saya, isi Perppu tersebut tidak memberikan “keadilan” bagi korban yang akan menghadapi trauma seumur hidupnya.
Sikap saya menolak Perppu ini tentunya akan mengundang banyak kritik bahkan hujatan seolah saya tidak dapat memahami penderitaan yang dihadapi oleh korban kekerasan seksual lainnya. Namun saya tetap percaya bahwa yang perlu dilakukan segera adalah perbaikan sistem dan proses hukum dalam penanganan kasus kekerasan seksual untuk menjamin bahwa mendapatkan akses keadilan bagi korban dapat terwujud.
Selain itu, pemerintah juga harus menjamin tersedianya layanan penanganan dan pemulihan bagi korban kekerasan seksual yang berkelanjutan. Peran masyarakat pun menjadi sangat penting untuk mendukung para korban dalam proses tersebut dengan tidak memberikan label negatif pada mereka.
Saya sebagai penyintas tidak mau memakai cara kekerasan dalam menyelesaikan persoalan kekerasan seksual. Saya sadar bahwa kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik dengan tidak melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh pelaku. Jika kita beranggapan bahwa kekerasan adalah solusi, maka kita akan berkontribusi dalam melanggengkan kekerasan. Perubahan tidak akan terwujud jika kita masih mengadopsi budaya dan pola pikir kekerasan. —Rappler.com

Monday, April 11, 2016

Hindari laki-laki seperti ini

http://keluarga.com/2069/keluarga/hindari-laki-laki-seperti-ini

Sayangnya tidak banyak wanita mendapat perlakukan yang pantas dari pasangannya. Mereka dicaci maki, mereka diperlakukan layaknya budak, mereka dipukul, ditampar, dan hal lain yang membuat hati kita miris mendengarnya.

Oleh: Yobel Hermanto

  • 1. Bersikap posesif

    Rasa ingin memiliki yang besar yang membuat dia bersikap sangat posesif. Dia akan berusaha untuk menghubungi Anda setiap saat tidak peduli Anda sedang sibuk. Dia juga menaruh rasa curiga seolah–olah Anda adalah orang yang tidak dapat dipercaya.
  • 2. Mulai membatasi hubungan sosial Anda

    Karena cemburu yang berlebihan tersebut dia akan berusaha untuk membatasi pergaulan Anda. Dengan siapa saja Anda oleh berbicara dan berinteraksi, mungkin juga dia akan selalu mengecek ponsel, email, dan media sosial lainnya untuk melihat apa saja yang Anda dan teman Anda bicarakan di dunia maya.
  • 3. Mengontrol kehidupan Anda

    Bukan hanya pertemanan yang dia atur tetapi juga kehidupan Anda. Dia akan berusaha untuk masuk ke dalam kehidupan Anda dan mulai untuk mengaturnya, mulai dari karier, studi, hubungan dengan keluarga dan lain sebagainya. Pria yang seperti ini terkesan seperti menganggap Anda seperti boneka yang bisa dimainkan dan dibuat sakit hati sesukanya.
  • 4. Ingin menang sendiri dan dia selalu benar

    Hal ini dapat Anda ketahui saat Anda sedang berkomunikasi atau berbicara dengan dia, apa komunikasi hanya berjalan satu arah atau dua arah? dan apakah dia mau mendengarkan pendapat Anda atau malah memutuskan segala sesuatu secara sepihak?
  • 5. Selalu meminta maaf jika melakukan kesalahan tetapi mengulanginya lagi

    Jika dia melakukan kesalahan, dia akan berusaha untuk meminta maaf dan berusaha untuk memperoleh pengampunan dari Anda. Tetapi sayangnya dia tidak sungkan untuk mengulangi perbuatan negatif tersebut dan meminta maaf kembali tanpa mau belajar untuk berhenti melakukan tindakan negatif kepada Anda.
  • 6. Emosi dan mood yang berubah–ubah

    Kadang dia sangat baik sekali dan perhatian tetapi kadang juga sangat emosional tanpa ada penyebab yang pasti. Hal ini yang membuat pria tersebut akan sulit untuk mengatur atau mengendalikan emosinya jika dia sudah mulai marah. Mungkin bukan lagi caki maki yang Anda dapatkan tetapi kekerasan fisik juga bisa terjadi
  • 7. Cenderung kasar saat berbicara

    Hal ini cukup sederhana untuk dikenali dengan melihat bagaimana dia berbicara dan memperlakukan orang terdekatnya. Jika dia berbicara kepada orangtuanya atau keluarganya yang lain cenderung kasar dan tidak sopan maka dapat ditebak apa yang akan terjadi kepada Anda.
  • 8. Sangat sensitif dan tidak mau disalahkan

    Karena memiliki emosi yang tidak mudah dikendalikan dia akan cenderung bersikap sensitif dan cepat marah. Bukan itu saja tetapi dia juga tidak suka disalahkan. Jika rencana yang dibuatnya tidak sesuai dengan harapannya dia akan cenderung untuk menuduh orang lain sebagai alasannya.
    Jika semua ciri–ciri ini ada dalam hubungan yang sedang Anda jalani, maka sebaiknya segera mengambil keputusan. Banyak wanita yang menganggap bahwa mereka akan bisa merubah sikap pasangannya jika mereka sudah menikah. Tetapi pada kenyataannya bukan tambah membaik malah lebih parah lagi sifatnya. Menikah bukan menjadi alasan untuk mengubah sikap seseorang, karena yang dapat merubah sifat dan karakter seseorang adalah diri mereka sendiri yang bersedia untuk merubahnya yang juga tidak terlepas dari campur tangan Tuhan. Oleh karena itu para wanita harus bisa berpikir secara logika ketimbang perasaannya jika ingin memutuskan untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih serius lagi.

Monday, February 29, 2016

Sunday, November 29, 2015

Buat Kamu Yang Hobi Menulis, 7 Cara Dewi Lestari Menulis Berikut Ini Akan Membantumu Mendapatkan Semangat Dan Inspirasi

http://trivia.id/post/buat-kamu-yang-hobi-menulis-7-cara-dewi-lestari-menulis-berikut-ini-akan-membantumu-mendapatkan-semangat-dan-inspirasi?utm_campaign=shareaholic&utm_medium=facebook&utm_source=socialnetwork

Oleh: @restyamalia


Banyak orang yang mengidamkan berprofesi menjadi penulis. Penulis rupanya menjadi salah satu profesi yang kini dianggap ‘keren’ dan menarik oleh banyak orang. Banyak orang berujar ingin menulis, tetapi tak tahu mau menulis apa. Sering kali keinginan ada, tetapi ide belum datang. Sering kali ide segar ada, tetapi tak tahu bagaimana harus menuangkan, mengembangkan, atau melanjutkan tulisan. Sering kali sudah tahu akan menulis apa, tetapi semangat tiba-tiba mengendur atau bahkan tak ada waktu untuk menulis dikarenakan kesibukan beaktifitas yang lain. Jika sudah seperti itu, mimpi menjadi penulis seperti makin jauh dari angan-angan karena menulis juga membutuhkan latihan.

Seperti yang seorang bijak katakan bahwa menulis itu seperti berlayar. Hanya ada dua pilihan yang bisa dilakukan. Terus berlayar atau berhenti dan mati saja. Berikut ini ada 7 cara yang biasa Dewi Lestari lakukan ketika menulis dan mencari inspirasi. Semoga cara-cara ini akan membantumu juga untuk lebih semangat menulis dan mendapatkan inspirasi.

1. Pastikan Badan Bersih Dan Segar, Sehingga Semangat Untuk Mulai Menulis



Dewi Lestari selalu merasa lebih semangat untuk menulis ketika merasa badanya bersih dan segar. Jadi, sebelum mulai menulis, dia pun mandi dan kemudian mempersiapkan diri untuk bekerja di rumahnya. Dia merasa senang dapat bekerja dekat dengan anggota keluarganya dan menjadikan rumah sebagai kantornya. Seperti yang terlihat dalam gambar yang diambil dari akun Instagram pribadinya, Dewi berujar siap berangkat ke kantor, yaitu rumahnya. Jika kamu merasa malas untuk memulai menulis, pastikan badan bersih dan segar, sehingga kamu lebih semangat untuk menulis dan inspirasi akan lebih mudah untuk didapatkan.

2. Mencari Tempat Dan Suasana Yang Nyaman Untuk Menulis



Dewi mengaku nyaman bekerja di rumah. Inilah gambar Dewi ketika sedang bekerja di rumah. Dia pun bisa menghabiskan waktu selama berjam-jam untuk duduk dan menulis. Gambar ini diambil ketika dia sedang sibuk menyelesaikan naskah Novel Intelegensi Embun Pagi, seri terakhir dari rangkaian Buku Supernova. Seperti yang dia lakukan di gambar ini, Dewi betah duduk lama dan menyelesaikan tulisannya. Jika kamu ingin menulis dan menghasilkan karya yang sesuai harapan, tempat dan suasana yang nyaman untukmu menulis menjadi salah satu faktor penting yang harus kamu perhatikan.

3. Menciptakan Sudut Nyaman Untuk Memulai Berimajinasi



Dewi senang duduk di sofa seperti ini karena baginya ketika duduk di sofa ini, dia akan dengan mudah berimajinasi. Apalagi sofa diletakkan di sudut nyaman di mana dia pun bisa melihat dan mendapatkan suasana yang inspiratif untuk mendapatkan ide untuk tulisannya. Kamu pun bisa mencoba cara ini. Temukan atau ciptakan tempat yang nyaman dengan suasana yang mendukung untuk mendapatkan ide dan inspirasi untuk menulis. Misalnya, sofa di tepi jendela di mana kamu akan dengan mudahnya melihat luar dan mendapatkan udara segar, tempat duduk di tepi kebun rumah, dan lain-lain.

4. Meletakkan Meja Kerja Menghadap Jendela Di Mana Kamu Bisa Melihat Sesuatu Yang Hijau Atau Langit



Banyak orang melakukan ini untuk mencari ketenangan, melihat pepohonan yang hijau atau memandangi langit. Untuk menulis, hal ini juga baik untuk dilakukan. Ketika dalam suasana tenang dan keadaan sekitar mendukung, inspirasi akan dengan mudahnya datang. Dewi Lestari pun melakukan hal yang serupa. Salah satu tempatnya menulis adalah meja kerjanya yang diletakkan di dekat jendela dengan menghadap ke luar. Dengan posisi seperti ini, Dewi bisa mendapatkan udara segar atau pemandangan yang menenangkan dan mengundang inspirasi untuk datang.

5. Menulis Di Kafe Sambil Mendendengarkan Musik



Dewi pun seringkali memilih sebuah kafe untuk tempatnya menulis. Seperti yang terlihat di foto berikut. Melalui akun instagramnya, Dewi berbagi pengalamannya memilih menulis di kafe setelah 10 hari berpuasa menikmati internet dan bersosial media. Kafe menjadi tempatnya bekerja dan menyelesaikan draft pertama Novel Supernova Intelegensi Embun Pagi. Dewi pun kadang menulis sambil mendengarkan musik. Tapi, dia berujar melalui media sosialnya bahwa dia nyaman mendengarkan musik instrumental karena musik instrumental lebih mengurangi distraksi atau gangguan untuk fokus. Sedangkan musik dengan vocal sering kali membuatnya kurang konsentrasi ketika mendengarkannya sambil menulis. Kamu pun bisa memilih kafe menjadi salah satu tempat untuk membantumu mencari inspirasi dan menulis. Selain itu, mendengarkan musik juga bisa jadi pilihan yang baik untuk menciptakan suasana, membangun mood, dan mengundang inspirasi untuk datang ketika menulis. Tetapi, pilihlah musik yang menenangkan bukan palah membuatmu tidak fokus ketika menulis.

6. Buat Mind Map Atau Rencana Apa Yang Akan Kamu Tulis Dan Lakukan Riset Untuk Tulisanmu


Mind map atau rencana apa yang akan kamu tulis sangatlah perlu dilakukan agar tulisanmu terorganisir. Riset pun perlu dilakukan agar tulisan kamu mendalam dan tak terkesan apa adanya. Jangan sampai orang yang membaca tulisanmu merasa bahwa tulisanmu dangkal karena kamu tidak atau kurang melakukan riset. Apalagi jika yang membaca tulisanmu adalah orang yang lebih memahami atau ahli di bidang yang kamu tulis. Dewi pun melakukan rencana yang matang dengan membuat mind map, rencana, dan riset yang mendalam untuk menghasilkan tulisan yang berkualitas. Rencana dalam bentuk mind map dibuatnya dimulai dari awal hingga akhir cerita secara detail agar tulisan yang dihasilkannya terorganisir dan terarah. Riset pun dia lakukan dengan berbagai macam cara. Bisa dengan cara datang langsung ke suatu tempat, mewawancarai seseorang, membaca buku, mencari informasi melalui internet, dan lain-lain. Cara ini sangat perlu untuk ditiru oleh kamu yang ingin serius menulis dan menghasilkan tulisan yang berkualitas.

7. Teruslah Menulis Tanpa Memikirkan Pendapat Orang Lain Tentang Tulisanmu. Menulislah Untuk Dirimu Sendiri.


Di setiap event menulis, Dewi Lestari sering berpesan bahwa jika kamu ingin menjadi penulis, maka menulislah. Menulislah untuk dirimu sendiri. Mulailah menulis tentang hal-hal yang kamu suka dan terus rutin menulis. Jangan pikirkan pendapat orang tentang tulisanmu karena hal itu akan membuatmu merasa terbatasi untuk menulis. Setiap orang memiliki selera masing-masing. Pasti akan ada yang menyukai dan tidak menyukai tulisanmu. Tapi percayalah bahwa setiap karya, termasuk tulisan, pastilah memiliki penikmatnya masing-masing. Jadi, yuk terus semangat menulis!



Friday, November 27, 2015

Sunday, October 25, 2015

Kasus Seksual Dan Kekerasan Mendominasi Kejahatan Pada Anak


BeritaCenter.com – Hasil kajian Indonesia Indicator (I2), menyebutkan, dari 343 media online di seluruh Indonesia, baik nasional maupun lokal pada periode 1 Januari 2012 – 19 Juni 2015, kasus seksual dan kekerasan mendominasi terhadap anak.
“Kasus kekerasan terhadap anak di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun. Hal itu dibuktikan dengan kian tingginya jumlah pemberitaan tentang kekerasan terhadap anak yang menghiasi media massa. Kekerasan seksual tercatat sebagai kasus yang paling kerap muncul di pemberitaan media,” kata Direktur Komunikasi Indonesia Indicator (I2), Rustika Herlambang memaparkan hasil kajian media yang bertajuk Anak-Anak dalam ‘Laut Hitam’ Kekerasan, di Jakarta, Senin(22/6).
Menurut dia, faktor utama penyebab kekerasan terhadap anak berasal dari faktor eksternal atau sosial, terutama kemiskinan.
“Tahun ini, peristiwa kekerasan pada anak berpuncak pada kasus Angelina (Engeline) di Bali yang mencapai 1.387 berita dalam sebulan terakhir, atau sekitar 26 persen dari total pemberitaan tahun 2015,” ujar Rustika.
I2 adalah perusahaan di bidang intelijen media, analisis data, dan kajian strategis dengan menggunakan software AI (Artificial Intelligence).
Rustika memaparkan, pemberitaan kekerasan terhadap anak cenderung melonjak tajam dari tahun ke tahun. Pada 2012, jumlah pemberitaan kekerasan terhadap anak hanya 1.084, tapi pada 2013 melonjak hingga 2.329 pemberitaan.
“Yang memprihatinkan, pada 2014 pemberitaan kekerasan terhadap anak meroket hingga 7.456 pemberitaan,” tuturnya.
Dalam akumulasi pemberitaan media dari tahun 2012-2015 terkait kekerasan anak, bentuk kekerasan yang paling kerap muncul di pemberitaan media adalah kekerasan seksual. Tahun ini, ekspose mengenai pemberitaan kekerasan seksual pada anak mencapai 1.533 berita.
Yang paling mengejutkan terjadi pada 2014. Ekspose kekerasan seksual terhadap anak mencapai 3.893 berita, katanya.
“Saat itu terjadi peristiwa pelecehan seksual pada anak di Jakarta International School (JIS) yang langsung memikat media hingga 1.194 berita,” papar Rustika.
Indonesia Indicator juga mencatat, pada 2012 dan 2013 pemberitaan kekerasan seksual terhadap anak paling dominan menghiasi media di Tanah Air.
Sedangkan tahun ini, hingga 19 Juni 2015 jumlah pemberitaan kekerasan terhadap anak sudah mencapai 5.266 berita. Kasus Angeline – atau kadang ditulis Engelina, berkontribusi besar pada peningkatan ekspos kekerasan pada anak di Indonesia. Kasus kematian Engeline pun menarik perhatian media dari luar negeri, setidaknya di beberapa negara terdekat seperti Australia dan Thailand.  Namun demikian, kasus Angeline ini hanyalah fenomena puncak gunung es yang menyeruak ke permukaan di laut hitam. Faktanya, masih banyak anak yang kurang lebih bernasib sama dengan Angeline, baik yang terungkap di publik (media) maupun yang belum terungkap di media.
“Jika dikalkulasi dalam periode 2012-2015, di mana ekspos mencapai 16.135 berita, berarti kasus Angeline menempati porsi 10 persen dari ‘Lautan Hitam’ pemberitaan kasus kekerasan pada anak  dalam empat tahun terakhir. Kasus Angeline ini menjadi alarm untuk ke sekian ribu kalinya, bahwa di negeri ini kehidupan anak-anak masih belum sepenuhnya terlindungi dan jauh dari rasa aman,” jelas Rustika.
Pelaku dan Penyebab Kekerasan Media memotret bahwa para pelaku kekerasan terhadap anak justru adalah orang-orang yang dekat dengan korban, yang seharusnya menjadi pelindung.
“Pelaku kekerasan terhadap anak didominasi oleh orang tua dan guru. Selama periode 2012 sampai dengan Juni 2015, pemberitaan soal kekerasan oleh orang tua kepada anak lebih tinggi daripada kekerasan yang dilakukan oleh guru,” katanya.
Pada 2015, pemberitaan kekerasan anak yang dilakukan orang tua mencapai 3.235 dan kekerasan oleh guru sebanyak 709. Pada 2014, kekerasan yang dilakukan orang tua mencapai 4.308 dan guru 2.312. Hal yang sama juga terjadi pada 2012 dan 2013.
Sementara itu, ada keterkaitan antara pelaku dan penyebab kekerasan pada anak yang terekspos media. Penyebab kekerasan terhadap anak berasal dari faktor eksternal atau sosial yaitu kemiskinan (223 berita), masalah keluarga, masalah sosial (80 berita), gangguan jiwa pelaku kekerasan (105 berita), dan rendahnya pengetahuan pelaku kekerasan akan efek tindakannya.
“Tampak dalam pemberitaan media sepanjang tahun 2013 sampai semester awal 2015, bahwa kemiskinan atau tekanan ekonomi merupakan faktor utama penyebab kekerasan pada anak,” kata dia.
Dengan hasil analisis ini, Rustika berharap agar perkembangan situasi perekonomian yang masih belum stabil di tahun ini, orangtua selalu mengingat agar anak tidak lagi menjadi korban kekerasan akibat faktor di luar dirinya sendiri.

Saturday, September 19, 2015

Jadi Istri Kedua, Hinakah?

http://tabloidnova.com/Keluarga/Pasangan/Jadi-Istri-Kedua-Hinakah?fb_action_ids=10203671931318136&fb_action_types=og.comments

Ibu Rieny yth,
Saya wanita (23 tahun) anak bungsu dari lima bersaudara. Dua tahun ini saya menjalin hubungan dengan seorang pria (X), yang berusia 10 tahun lebih tua. X sangat dewasa dan banyak membimbing saya, semisal untuk urusan salat. Dia pula yang membantu memenuhi kebutuhan saya sehari-hari. Maklumlah Bu, saya pengangguran. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saya membantu orangtua yang membuka usaha di rumah.

X adalah seorang pengusaha yang hidup mapan dan berkecukupan. Hubungan dia dengan keluarga saya sangat akrab begitu juga dengan lingkungan sekitar saya. X supel dan royal. Dia tidak segan-segan memberikan sesuatu kepada orang lain. Hampir setiap hari saya bertemu dengannya, karena kebetulan ia harus lewat di depan rumah saya untuk menuju tempat kerjanya.

Masalahnya Bu, X sudah memiliki istri dan 4 orang anak. Hal itu sudah saya ketahui sejak awal, begitu juga kepada keluarga saya dia berkata terus terang telah memiliki anak dan istri. Dia tidak pernah menutupi statusnya kepada orang lain (bukankah itu lebih baik daripada saya mengetahuinya belakangan Bu?) Tapi, Bu, saya sepertinya terlena dengan semua ini. Saya juga mencintai dan menyayangi X terlebih lagi dia selalu menuruti apa yang saya inginkan.

Setahun yang lalu X mengundang, keluarga dan tetangga dekat saya ke rumahnya untuk menghadiri selamatan. Di sana saya bertemu dengan istri dan anaknya. Anak pertama X sudah mengetahui perihal hubungan saya dengan X dan dia tidak mempermasalahkan itu asalkan X tidak meninggalkan keluarganya. Sementara istri X samasekali tidak mengetahui (istri X tidak pernah bepergain jauh karena jarak rumah X dengan kota tempat tinggal saya lumayan jauh).

X sangat mencintai dan menyayangi saya lebih daripada istrinya, terbukti dia lebih banyak menghabiskan waktu bersama saya. X telah memiliki rumah di kota tempat tinggal saya dan itu akan menjadi hak saya nanti jika menikah dengan dia (surat-surat rumah ada pada saya).

Sekarang ini X mengajak saya untuk serius dan menikah. Bagaimana ini Bu? Apa yang harus saya lakukan? Orangtua dan kakak-kakak saya menyerahkan semua ini kepada saya, karena toh saya yang akan menjalaninya. Bila saya mau, maka kedua orangtua saya pun akan merestuinya, walaupun saya tahu hati kecil mereka, terutama ibu saya, sangat berat menghadapi ini. Bila saya mengambil keputusan "ya" berarti saya akan menjadi "istri kedua" apakah itu hina bu? Dan bagaimana menghadapi tanggapan orang-orang nantinya Bu ? Apakah saya akan bahagia bersama X ?

Sebenarnya saya ingin lari dari semua ini, tetapi saya ingat bahwa mungkin ini adalah suratan nasib saya. X pernah berkata jika saya mengatakan "tidak" dia tidak akan marah dan akan tetap baik kepada saya. Tapi saya sudah terlanjur sayang dan kasihan terhadap X.
Bu Rieny, bantu saya untuk menghadapi semua ini, apa yang harus saya lakukan? Saya tidak ingin dikatakan merebut suami orang dan perusak rumah tangga orang Bu. Terima kasih.
Tati - Somewhere 
Tati yth,
Tentu saja Anda akan diakatakan merebut suami orang bila kelak memang jadi menikah dengan X. Dan, Anda juga akan menjadi perusak rumah tangga orang manakala Nyonya X kemudian tahu mengenai perkawinan Anda dengan X dan itu membuat hubungannya dengan X lalu memburuk, atau malah berpisah sekalian.

Jika kejadiannya seperti itu, maka bukan hanya Nyonya X yang butuh penyesuaian baru dengan status barunya, entah janda atau perempuan yang dimadu, tetapi juga dengan anak-anaknya. Anak-anak X akan butuh waktu untuk bisa menerima kenyataan bahwa kini mereka harus berbagi ayah dengan orang lain yang masuk ke dalam hidup mereka, tanpa mereka undang, apalagi mereka harapkan.

Ketika saya masih duduk di bangku SMP, jadi sudah hampir 30 tahun yang lalu, ada seorang teman tante saya yang cantik, langsing, bajunya bagus-bagus karena suaminya direktur dari sebuah bank swasta terbesar saat itu. Mereka berdua sering pergi makan malam dan berdansa dengan tante dan Om saya. Pada saat itu, melihat kehidupan mereka yang riang gembira, saya kerap berpikir, "Wah, enak, ya, jadi istri direktur bank, happy-happy terus."

Sampai pada suatu hari saya kehilangan tante tadi dan saya dengar ia sakit keras, dirawat di RS. Ketika kemudian saya melihatnya lagi, ia sudah kehilangan daya tariknya. Kurus, mukanya murung, dan kalau bertemu tante dan ibu saya ia sering terlihat menangis. Belakangan saya ketahui, si Om rupanya terpikat pada seorang gadis dan menikahinya sehingga istri dan anak-anaknya shock dan tidak bisa menerima kenyataan itu.

Tante ini tak bercerai karena suaminya memang tak berniat untuk menceraikannya. Sejalan dengan berlalunya waktu, ia tak pernah seceria dahulu. Sampai pada suatu hari, saya 'menguping' ketika ia bercerita pada tante saya bahwa ia merasa menemukan dirinya kembali, harga dirinya lagi dan ingin happy-happy seperti dulu lagi. Karena apa? Rupanya suaminya memiliki istri lagi, yang lebih muda dari anak pertama mereka.

Saya ingat benar apa yang dikatakannya. Begini Tati: "Selama dimadu, aku berpikir aku ini kalah lo sebagai perempuan. Dia muda, cantik, seksi dan, binal. Aku tidak bisa bergaya 'nakal ' seperti itu, dan karenanya aku tertekan sekali.Tetapi, ketika Mas kawin lagi, aku kok bisa mengubah semua cara pandang diriku yang buruk itu ya? Aku jadi sadar bahwa memang ia hobi kawin, jadi aku dimadu bukan karena aku lebih jelek dan lebih tua"

Bahkan dengan 'madu'nya yang ini, ia bisa tidak bermusuhan, sehingga si nomor 2 akhirnya tersisih dari 'peredaran' dan sampai meninggalnya, si Om ini punya 3 istri, karena kemudian ia menikah lagi untuk keempat kalinya.

Yang mau saya sampaikan pada Tati, bila X dengan mudah mengawini Anda, ada baiknya Anda memikirkan pula apa yang akan Anda rasakan bila kemudian X punya lagi istri ketiga dan keempat? Tidak mungkin? Sangat mungkin, dong! Uangnya banyak, statusnya terpandang, dan perempuan yang berpikiran seperti Anda juga tidak cuma Tati seorang. Jadi, tinggal menunggu waktu saja, bilamana perkawinan kedua akan disusul oleh yang berikutnya. Bukankah manusia cenderung mengulangi perilaku yang mendatangkan perasaan nyaman pada dirinya? Kalau menikah kembali ternyata menyenangkan untuk X, why not ia lakukan dan lakukan lagi?

Pembicaraan tentang istri kedua, hemat saya tak bisa diletakkan dalam kerangka hina atau tidak hina. Siapalah saya ini kok boleh mengatakan bahwa Anda hina karena menikah dengan suami orang. Bukankah Anda orang yang 'merdeka' berkehendak dan membuat keputusan untuk diri Anda?

Saya cuma bisa menyarankan agar Anda berpikir masak-masak mempertimbangkan apakah 'ongkos sosial' yang harus Anda bayar memang sesuai dengan pemilikan rumah, belanja dan hidup berkecukupan yang tampaknya Anda harapkan akan Anda peroleh dengan menikah dengan X.

Yang saya maksud dengan 'ongkos sosial' adalah label yang melekat sebagai istri muda. Dalam status dalam kehidupan sosial X, apakah Anda berpeluang untuk mendampinginya pada acara-acara dimana X harus hadir bersama istri? Bepergian bersama dan bersikap seperti suami-istri di hadapan khalayak ramai. Hal-hal ini biasanya akan sukar diperoleh oleh seorang istri kedua.

Jadi, kalau Anda katakan suratan nasib, saya kok ingin 'tersenyum kecut' ya, Tati, karena sepanjang kita masih bisa membuat keputusan yang mandiri untuk hidup ini, maka kita seyogianya berpikir dan berpikir ulang, tentang manfaat jangka panjang dari keputusan yang kita ambil dalam hidup kita. Dan, membuat keputusan untuk menikah, hemat saya adalah salah satu keputusan terpenting yang dibuat seseorang dalam kehidupannya.

Karenanya, sebelum Anda melangkah pada sebuah kepastian, boleh deh Anda menanyakan beberapa pertanyaan ini pada diri sendiri, dan menajwabnya dengan jujur. Atas dasar profil jawaban Anda, mudah-mudahan Anda bisa memperoleh sebuah gambaran, apakah memang kawin adalah jawaban yang tepat untuk Anda saat ini.

Pertama, sebutkan alasan baik yang membuat Anda ingin menikah. Artinya, ketika Anda benar menikah, ayah dan ibu memang senang dan setuju (bukan terpaksa setuju), kakak-kakak tak malu atau sungkan menghadapi lingkungan dan tak perlu menyembunyikan status Anda, dan alasan itu disebut baik bila di saat Anda merasa senang dan bahagia, ini tidak Anda lakukan di atas ketidak bahagiaan orang lain.

Lalu, apakah dengan menjadi istri kedua ini ada tujuan hidup Anda yang lalu terhambat untuk Anda realisasikan? Misalnya, Anda ingin kawin, melahirkan dan membesarkan anak dengan status sosial yang jelas. Apakah Anda punya tujuan bahwa melalui perkawinan Anda ingin lebih tenteram dan bahagia? Lalu, kalau menjadi istri kedua, apalagi tanpa persetujuan istri pertama, apa benar Anda akan lebih tenang dan tenteram dibandingkan ketika Anda belum menikah?

Yang terakhir, menilik perilaku X yang dengan tenang bisa menghadirkan Anda di rumah dimana istrinya berada, dapatkan Anda harapkan bahwa ia akan menjadi suamiyang pandai menjaga perasaan istrinya, membuat istrinya merasa aman dan terlindungi dan dikasihi secara total?

Sungguh, saya tak ingin memengaruhi apapun yang akan Anda putuskan, Jeng Tati. Hanya saja, saya ingin sekali ingatkan, perempuan selalu berada dipihak yang rugi dalam kasus-kasus seperti ini.Tidak terlalu tepat kalau dikatakan bahwa istri kedua pasti dapat lebih banyak (waktu bersama suami, uang dan pengakuan sebagai istri). Yang lebih sering saya temui, mereka lebih banyak harus hidup dalam bayang-bayang sang suami saja. Kalau sudah begini, meskipun punya rumah di atas pucuk gunung, saya yakin tak otomatis merupakan jaminan bahwa kita akan bahagia.

Kebahagiaan yang sebenarnya hanya akan bisa kita peroleh manakala kita menjalani hidup dengan perasaan nyaman karena yakin benar bahwa kita sudah membuat keputusan yang tepat dalam hidup. Mudah-mudahan Anda kini bisa lebih bijaksana dan berpikir panjang sebelum memuat keputusan. Salam sayang. 

Tuesday, September 1, 2015

Jangan Jadi Pelaku Kekerasan Verbal di Kantor


Verbal abuse atau kekerasan verbal memang merupakan bentuk kekerasan tersembunyi. Di tempat kerja, pelaku abuse atau abuserkerap tidak menyadari bahwa perilaku dan ucapannya melukai perasaan orang lain. Orang yang menjadi sasaran pun kerap tidak menyadarai bahwa dia adalah korban.

"Pelaku verbal abuse biasanya memiliki karakter narsistis, merasa diri paling hebat," ujar dr. Anggia Hapsari, Sp.K.J. Ciri lain adalah reaktif atau bereaksi berlebihan, manipulatif, takut salah, oportunis, dan kesepian, sehingga senang mencari-cari masalah. Itu sebabnya kata-kata yang kerap dia ucapkan sebenarnya menggambarkan karakteristiknya sendiri.

Adalah Alice Carleton yang berupaya mencari jawaban tentang penyebab penyakitnya selama ini. Pencariannya selama 15 tahun membuahkan hasil. Ia mempresentasikan makalahnya yang berjudulSociety Hidden Pandemic: Verbal Abuse, Precursor to Physical Violence atas undangan Michigan Counseling Association. Alice mengungkap bahwa verbal abuse bisa meningkatkan kadar kolesterol. "Setiap kali kita mengalami stres, hormon kortisol dilepas ke dalam sistem peredaran darah. Kortisol ini merusak sistem kekebalan tubuh dan mengganggu kerja insulin serta meningkatkan kadar kolesterol darah," papar Alice.

Dijelaskan lebih lanjut, gejala awal dari dampak verbal abuse adalah gangguan tidur, tersedak tanpa sebab, sariawan berkepanjangan, gatal-gatal, gelisah di kantor, atau tidak dapat duduk diam. Mendengar suara detak sepatu 'sang monster' dari kejauhan saja, korban langsung kehilangan rasa percaya diri. Reaksi lainnya, korban menarik diri, depresi, dan sering berbohong supaya tidak dimarahi. Korban mengalami lack of trust sehingga merasa harus melindungi diri dengan cara berbohong.

"Efek dari stres adalah, kalau karyawan itu masih muda, usia 20-an, mereka akan mengalami gagap. Disuruh apa pun jadi lambat. Melambatnya proses berpikir akan berdampak pada gerakannya yang serba lambat pula. Adapun penyakit yang paling lazim adalah sakit lambung, migrain, gatal-gatal pada kulit, dan tension headache atau sakit di leher bagian belakang," papar dr. Anggia.

Sadari segera jika Anda sering berteriak, mencibir, mengungkap kesalahan staf di hadapan orang lain, mengkritik penampilan atau hasil kerja staf Anda dengan pedas. Atau, Anda sering melakukan ini: mengajak staf Anda berbicara, kemudian meninggalkannya selagi ia berbicara. Sadari pula jika Anda kerap mendapati staf Anda sering sakit -terutama cenderung menghindari masalah daripada mencari pemecahannya.

"Pelaku verbal abuse biasanya punya kesulitan mengelola kemarahannya," kata Anggia. Program pengelolaan emosi atau anger management dapat diikuti untuk menurunkan kecenderungannya.



Immanuella F. Rachmani
Konsultan: dr. Anggia Hapsari, Sp.KJ - RS Siloam, Jakarta

Tuesday, August 25, 2015

10 Pemahaman Keliru Tentang Feminisme

http://magdalene.co/news-381-10-pemahaman-keliru-tentang-feminisme-.html

By : Devi Asmarani

Dari Virginia Woolf dengan keindahan tulisannya; martir penuntut hak perempuan untuk memilih, Emily Davison; para intelektual seperti Simone de Beauvoir, Germaine Greer dan Naomi Wolf; aktris tanpa cela Emma Watson; sampai para aktivis daring dari Everyday Sexism – feminisme adalah wajah dari banyak perempuan dan laki-laki, yang terwujud dalam pemikiran-pemikiran dan ekspresi berbeda, semuanya dengan tujuan sama untuk membangun kesetaraan untuk perempuan di semua wilayah kehidupan mereka.

Sayangnya, masih banyak orang yang keliru memahaminya dan kekeliruan-kekeliruan itu terus disebarkan sampai sekarang.

Berikut adalah 10 kesalahpahaman terbesar mengenai feminisme:

  1. Feminis membenci laki-laki
Ini adalah salah satu kekeliruan paling kuno dan paling melelahkan mengenai feminisme. Feminisme adalah sebuah gerakan dan ideologi yang memperjuangkan kesetaraan bagi perempuan dalam politik, ekonomi, budaya, ruang pribadi dan ruang publik. Feminisme tidak pernah merupakan ideologi kebencian.

  1. Untuk mencapai kesetaraan, feminisme harus melemahkan laki-laki
Mencapai kesetaraan gender memang harus melalui dekonstruksi maskulintas, namun hal ini tidak sama dengan mengebiri laki-laki. Dalam ratusan tahun sejarahnya (bahkan sebelum istilah “feminisme” dilontarkan), gerakan ini telah memupuk tradisi perenungan dalam dan pemikiran kembali konstruksi sosial atas gender maupun dinamika gender. Feminisme seharusnya memperbaiki relasi gender, bukan memperkuat salah satu jenis kelamin dengan mengorbankan yang lain. 

  1. Feminisme hanya membantu perempuan ­
Feminisme tidak hanya membebaskan perempuan, gerakan ini juga membebaskan laki-laki dengan memutus standar-standar yang diberikan masyarakat pada perempuan dan laki-laki. Feminisme adalah tentang mengubah peran-peran gender, norma seksual dan praktik-praktik seksis yang membatasi diri. Laki-laki memiliki kebebasan untuk menjelajah hidup di luar batas-batas kaku maskulinitas tradisional. Feminisme juga mempercayai akses yang sama untuk pendidikan, yang barangkali memungkinkan ibu-ibu Anda mendapatkan gelar universitas dan mendapatkan pekerjaan, sehingga Anda dan saudara-saudara Anda memiliki kesempatan yang lebih baik dalam hidup. Dengan pendidikan, perempuan cenderung memiliki pilihan-pilihan hidup yang lebih baik, menghasilkan keluarga dan masyarakat yang lebih sehat dan berfungsi secara optimal. 

  1. Hanya perempuan yang bisa jadi feminis
Feminis berkomitmen untuk mengatasi masalah-masalah sehari-hari seperti kekerasan dalam rumah tangga, pemerkosaan dan kekerasan seksual, ketidaksetaraan penghasilan, obyektifikasi seksual, dan lain-lain. Cara terbaik untuk menanggulangi masalah-masalah ini adalah untuk melibatkan laki-laki, meningkatkan kesadaran para pegawai pria mengenai kepekaan gender, mengajarkan anak laki-laki untuk menghormati anak perempuan, membuat para ayah mau berbagi beban pekerjaan rumah tangga dan lebih terlibat dalam membesarkan anak-anak, dan masih banyak lagi.

  1. Feminis pasti ateis
Memang betul bahwa beberapa agama memiliki perspektif-perspektif patriarkal yang tinggi dan melanggengkan praktik-praktik diskriminatif kuno terhadap perempuan, namun bukan berarti tidak ada ruang untuk perbaikan. Ada banyak pihak yang telah memasukkan interpretasi ramah perempuan ke dalam ajaran-ajaran agama. Di Indonesia kita memiliki ulama feminis dancendekiawan Muslim ini serta beberapa lainnya. Anda tidak perlu mendepak agama Anda untuk meyakini bahwa perempuan memiliki hak-hak yang sama dengan laki-laki.

6.  Feminis tidak percaya pernikahan 

Omong kosong. Banyak feminis yang memiliki pernikahan bahagia (salah satunya saya). Selama pernikahan memberikan nilai-nilai pribadi, hukum dan sosial kepada kedua orang di dalamnya, tidak ada alasan untuk menolak lembaga perkawinan. Yang ditolak para feminis ini adalah ketika masyarakat menilai pernikahan sebagai “tempat yang lebih baik” untuk perempuan, memberi hukuman sosial untuk mereka yang tidak menikah atau bercerai, dan ketika pernikahan digunakan sebagai cara mengontrol perempuan. Selain itu, para feminis percaya pernikahan legal harus berlaku bagi semua preferensi seksual dan ekspresi gender (ya, kami percaya pernikahan sesama jenis!). 

  1. Feminis sejati tidak menggunakan rias wajah dan beha
Bohong! Feminisme memberikan perempuan pilihan – bukan membatasi – ekspresi pribadi. Tidak bisa lepas dari sepatu hak tinggi? Pakailah. Senang memakai rok mini hitam? Mengapa tidak. Namun mengekspresikan diri dalam ekspresi feminitas tradisional adalah pilihan, bukan kewajiban, dan tidak seharusnya itu mendefinisikan diri Anda. Secara pribadi, saya suka terlihat cantik, tapi saya tidak suka membuang terlalu banyak waktu dan energi untuk melakukannya, jadi saya jarang memakai rias wajah, kecuali pensil alis dan lip-gloss.

  1. Feminisme adalah konsep Barat
Sejujurnya, ini adalah salah satu kritik diri utama dalam gerakan feminis di masa lalu: bahwa feminisme, sebagai gerakan dan ideologi, terlalu Eropa-sentris dan didikte oleh perempuan kelas menengah berkulit putih. Gerakan ini juga dikritik karena kecenderungannya untuk mengabaikan kelas, kasta, agama, bias etnis dan diskriminasi ras yang memperumit ide mengenai gender. Namun feminisme telah ada sejak lama di bagian dunia non-Barat, dari Amerika Selatan, Asia sampai Afrika, meskipun dengan fokus-fokus yang sedikit disesuaikan dengan konteks lokal.

  1. Feminisme belum berubah seiring waktu
Salah! Gelombang pertama feminisme pada abad 19 dan awal abad ke-20 difokuskan pada persamaan hak sipil dan politik, terutama hak perempuan untuk memilih dalam pemilu. Gelombang kedua, yang mulai pada 1960an sampai 1980an, memperluas tujuan-tujuan itu untuk menyertakan isu-isu seksualitas, keluarga, tempat kerja, hak-hak reproduksi dan ketidaksamaan legal lainnya. Feminis-feminis gelombang ketiga mengembangkan debat-debat itu untuk fokus pada ide-ide seperti teori homoseksualitas, penghapusan ekspektasi peran dan stereotip gender. Kesadaran dalam feminisme saat ini – terkadang disebut feminisme gelombang keempat, meski masih diperdebatkan – merengkuh ide “interseksionalitas”, penindasan-penindasan ganda yang saling berkaitan terhadap ras, seks, seksualitas dan kelas. Ini adalah gerakan dan kesadaran yang mengadvokasi orang-orang untuk memberi ruang pada mereka yang termarjinalkan secara politik, ekonomi dan sosial karena gender, preferensi seksual, ras, kelas dan hal-hal lainnya. 

  1. Feminisme tidak diperlukan lagi karena perempuan sudah setara dengan laki-laki
Hal ini sangat keliru. Mari ingat-ingat lagi tuntutan gerakan pembebasan perempuan pada 1970an: Empat tuntutan pertama adalah kesetaraan gajikesempatan sama atas pendidikan dan pekerjaanjaminan hak-hak reproduksi, dan penghapusan kekerasan atau pemaksaan seksual tanpa memandang status pernikahannya. Sekarang lihat fakta-fakta hari ini: Menurutlaporan dari Organisasi Buruh Sedunia PBB, perempuan di seluruh dunia hanya menerima 77 persen dari besarnya gaji yang dibayarkan untuk laki-laki, angka yang hanya meningkat 3 persen dalam 20 tahun terakhir. Ditambah lagi, banyak lapangan pekerjaan masih tidak ramah untuk ibu, dan posisi-posisi kepemimpinan teratas dalam perusahaan-perusahaan dan pemerintahan masih sangat didominasi oleh laki-laki. Kedua, di banyak negara berkembang termasuk Indonesia, jumlah anak-anak perempuan yang putus sekolah masih lebih tinggi daripada anak laki-laki karena orangtua mereka melihat anak perempuan tidak menguntungkan dilihat dari investasi ekonomi. Ketiga, meski alat-alat kontrasepsi sekarang tersedia secara luas, banyak negara (termasuk Indonesia) yang masih memperbolehkan pernikahan di bawah umur, yang melanggengkan kekerasan dalam rumah tangga dan kemiskinan. Keempat, budaya pemerkosaan tumbuh subur baik di negara maju maupun berkembang. Di negara-negara seperti  Indonesia, hukum dan penegak hukum dalam kasus-kasus kekerasan seksual hampir tidak pernah berpihak pada perempuan.

Selain itu, tradisi mengerikan seperti mutilasi genital perempuan masih dipraktikkan di Afrika dan bahkan di Indonesia. Dan, jangan lupa, meski perempuan akan boleh memilih untuk pertama kalinya dalam pemilu di Arab Saudi tahun ini, mereka masih belum boleh menyetir atau meninggalkan rumah tanpa muhrim laki-laki.

Jadi masih berpikir pekerjaan kita sudah selesai? Pikirkan lagi.

*Tulisan ini diterjemahkan dari artikel "Ten Things You're Wrong About Feminism".

**Baca wawancara Devi mengenai salah satu feminis pertama Indonesia, Kartini, dan ikuti @dasmaran di Twitter.