Thursday, May 30, 2019

Monday, April 29, 2019

KARTINI: MENULIS ADALAH PINTU KEBEBASAN



 Kartini itu penulis. Artikelnya dimuat beberapakali di Jurnal Antropologi Kerajaan Belanda. Dia melakukannya dengan segala cara di tenga keterbatasannya pada situasi pemingitannya. Situasi yang melarangnya keluar dari keraton dan adat yang memaksanya untuk berjalan lambat bahkan berjongkok dihadapan yang lebih tua dan berkasta. Atau situasi budaya feodal dan kolonial yang melarangnya sekolah tinggi.

Dia hanya ingin pikiran-pikirannya didengar dan menjadi inspirasi bagi orang lain. Dia bahkan harus memalsukan namanya sebagai penulis laki-laki supaya tidak diragukan, tidak dicemooh karena dirinya perempuan. Bukankah tidak mungkin perempuan bisa menulis dan berwawasan luas pada masa itu? 

Pada masa itu adalah hal yang mustahl karena kesempatan yang tidak sama, karena situasi yang tidak adil terhadap manusia perempuan. Kartini juga ingin memberitakan pada dunia bahwa penjajahan dan imperialisme banyak merugikan ummat manusia. Ia juga menekankan bahwa betapa dirinya sangat mencintai Indonesia. 

Dia memang menjadi terkenal dengan tulisan-tulisannya di berbagai jurnal berkat upayanya melakukan korespondensi diam-diam. Dia tak menyerah dan terus mencari pintu-pintu kebebasan dengan senjata tulisan. Jadi, dia bukan tiba-tiba begitu saja diterbitkan surat-suratnya. Melainkan karena dia memang penulis terkenal. 

Meskipun akibat kegairahannya dalam menulis tersebut harus mengalami fitnah yang keji dari saudara laki-laki lainnya dari pihak ibu yang merasa cemburu, dan membuatnya semakin sulit untuk "keluar dari kerangkeng". 

Tahukan penulis itu kerjanya apa? Ya menulis. Tahukah apa yang ditulisnya? Wawasan dan imajinasinya yang luas sehingga dia mampu membaca dunia, membaca bangsanya, membaca masyarakat, berempati pada orang lain, dan membawa diri dan bangsanya pada kemerdekaan hakiki, pada kehendak bebas yang ditakdirkan pada setiap umat manusia.

Catatan Siang Mariana Amiruddin, Menteng 22 April 2019

Saturday, March 30, 2019

Thursday, February 28, 2019

STOP Domestic Violence (Public Service Ad)

Secinta Apapun, Jangan Sampai Lakukan 5 Hal Ini Untuk Pasanganmu


https://www.idntimes.com/life/relationship/stella-azasya/sikap-yang-tidak-boleh-dilakukan-pada-pasangan-kamu-c1c2

Secinta Apapun, Jangan Sampai Lakukan 5 Hal Ini Untuk Pasanganmu

Kamu butuh cinta diri sendiri dulu...

Secinta Apapun, Jangan Sampai Lakukan 5 Hal Ini Untuk Pasanganmuculturefly.co.uk
Stella Azasya
 Community Writer
Stella Azasya

Tidak sedikit orang mengatasnamakan cinta untuk semua hal yang dilakukannya untuk pasangan. Padahal tidak semua hal itu cocok dengan konsep cinta yang positif. Jadi saat kamu berada dalam hubungan yang tidak sehat, jangan bertahan hanya karena kamu masih mencintainya.

Secinta apapun kamu dengan pasanganmu, jangan sampai lakukan lima hal ini untuknya. Ini tidak sehat dan melakukannya berarti kamu hanya merusak kebahagiaanmu sendiri.

1. Mencoba mengubah penampilanmu untuk menyenangkannya

Secinta Apapun, Jangan Sampai Lakukan 5 Hal Ini Untuk Pasanganmutelegraph.co.uk

Tidak apa-apa kalau kamu nyaman dengan itu. Tapi kalau kamu tidak nyaman dan memaksakannya, itu malah yang tidak benar. Kamu harus senantiasa ingat bahwa dirimu sendiri itu butuh dibahagiakan.

Jangan memaksakan diri melakukan hal yang tidak kamu suka, untuk menyenangkan orang yang tidak bisa menerima kesukaanmu.

2. Membatasi atau malah menjauh dari teman-temanmu karenanya

Secinta Apapun, Jangan Sampai Lakukan 5 Hal Ini Untuk Pasanganmutelegraph.co.uk

Pasangan yang baik tidak akan menghabiskan waktumu untuk dirinya sendiri. Dia akan tahu bahwa kamu butuh teman lain, kamu butuh waktumu sendiri untuk keluarga dan orang-orang yang sudah ada sebelum pasanganmu datang. Jangan menjauhi temanmu saat kamu sudah punya pasangan, itu tidak masuk akal.

3. Menoleransi kesalahannya yang fatal hanya karena tidak ingin kehilangan dia

Secinta Apapun, Jangan Sampai Lakukan 5 Hal Ini Untuk Pasanganmuvariety.com

Misalnya dia memukulmu, atau menghujanimu dengan kata-kata kotor yang tidak pantas. Apakah kamu masih akan bertahan dengannya? Jangan. Cinta itu tidak seperti itu. Bayangkan kalau masih pacaran saja kamu sudah sering dimaki-maki, waktu menikah nanti kamu pasti mati muda.

4. Membiarkan dia mengubah dirimu sebenarnya

Secinta Apapun, Jangan Sampai Lakukan 5 Hal Ini Untuk Pasanganmubookfandoms.com

Misalnya tentang hal yang kamu suka dan tidak kamu sukai. Jika kamu memang tidak suka memancing, maka jangan paksakan dirimu untuk suka dan berbohong kalau kamu lebih suka memasak.

Kompromi dalam berhubungan itu pasti selalu ada dan dia harus kompromi kalau memang kamu tidak suka itu.

5. Membuang mimpimu demi pasanganmu

Secinta Apapun, Jangan Sampai Lakukan 5 Hal Ini Untuk Pasanganmustraight.com

Apapun yang sedang kamu lakukan atau impikan sekarang, jangan sampai membuang itu hanya untuk pasanganmu. Kalau kamu ingin kerja, pergilah bekerja di tempat yang kamu mau. Kalau kamu ingin kuliah, maka ambilah gelar pendidikan setinggi yang kamu inginkan.

Melepas semua yang bisa kamu dapatkan hanya akan mendatangkan penyesalan bagimu. Justru, seharusnya dia mendukungmu untuk meraih mimpi, bukan menyuruhmu membuangnya.

Jika kamu melakukannya, sama saja kamu tidak mencintai dirimu sedangkan syarat utama untuk mencintai orang lain adalah mencintai diri sendiri dulu. Ingatlah bahwa cinta tidak akan membuatmu kehilangan kebahagiaanmu, sebaliknya, kamu akan mendapat banyak kebahagiaan karenanya.


















Tuesday, January 29, 2019

Sunday, December 30, 2018

Thursday, November 29, 2018

DOMESTIC VIOLENCE: IMPACT ON CHILDREN

Domestic violence; impact on children

https://youtu.be/TOfeByZ1jic

Wednesday, October 31, 2018

Stop Domestic Violence!

https://youtu.be/X5JiqCLh6ps

Saturday, October 27, 2018

Saturday, September 29, 2018

Tentang Paralegal; Apa dan siapa Paralegal


http://lbhapik.or.id/2018/03/27/tentang-paralegal-apa-dan-siapa-paralegal/

Paralegal adalah seseorang yang mempunyai keterampilan hukum namun ia bukan seorang Pengacara (yang profesional) dan bekerja di bawah bimbingan seorang Pengacara atau yang dinilai mempunyai kemampuan hukum untuk menggunakan keterampilannya.

Isitilah “Paralegal”, pertama kali tercantum dalam peraturan perundang-undangan yaitu dalam Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2011 tentang Bantuan Hukum. Dalam Pasal 9 Undang-Undang Bantuan Hukum antara lain disebutkan bahwa “Pemberi Bantuan Hukum berhak melakukan rekrutmen terhadap pengacara, paralegal, dosen, dan mahasiswa fakultas hukum”. Sementara itu dalam pasal 10 antara lain disebutkan bahwa “Pemberi Bantuan Hukum berkewajiban untuk menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan Bantuan Hukum bagi advokat, paralegal, dosen, mahasiswa fakultas hukum.

Meski baru mendapatkan legitimasi formil dengan istilah “Paralegal” setelah disahkannya Undang-Undang Bantuan Hukum, namun didalam sejumlah peraturan perundang-undangan sebelumnya sesungguhnya sudah banyak memberikan legitimasi bagi posisi paralegal, meskipun dengan penyebutan yang berbeda-beda. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah tangga menggunakan istilah “relawan pendamping” untuk menyebut istilah “paralegal”. Sementara itu Undang-Undang No. 3 Tahun 1997 tentang Peradilan Anak menggunakan istilah “pekerja sosial”.

Sejarah Keparalegalan
Istilah paralegal dikenak di Indonesia pada sekitar tahun 1975. Sebelumnya, pada jaman pendudukan Belanda, Paralegal lebih dikenal dengan sebutan pokrol (gemachtegde).

Paralegal awalnya muncul sebagai reaksi atas ketidakberdayaan hukum dan dunia profesi hukum dalam memahami dan menangkap serta memenuhi asumsi-asumsi sosial yang diperlukan guna mewujudkan hak-hak masyarakat miskin yangs ecara jelas diakui oleh hukum. Pelaksanaan hak-hak tersebut seringkali hanya bisa dilaksanakan jika asumsi-asumsi sosial tersebut dipenuhi:

- Masyarakat mengerti dan memahami hak-hak tersebut
- Masyarakat mempunyai kewajiban kekuatan dan kecakapan untuk memperjuangkan dalam mewujudkan hak-hak tersebut.
Paralegal ada dan berkembang untuk pemenuhan asumsi-asumsi sosial tersebut.

Sepanjang perkembangannya, pada akhirnya Paralegal diakui legitimasinya di dalam system perundangan di Indonesia, beserta dengan peran dan fungsinya yang terus berkembang sesuai dengan kebutuhan di masyarakat. Seperti dijabarkan pada point di atas.