Tuesday, June 26, 2018

Lingkaran Kekerasan dalam Rumah Tangga




Oleh: Titiana Adinda


Anda sering bimbang ketika telah menjadi korban KDRT. Anda sering memaafkan pelaku dengan alasan dia telah meminta maaf kepada Anda dan berjanji tidak akan melakukannya lagi.  Tetapi beberapa saat kemudian kekerasan itu terjadi lagi. Anda binggung kenapa bisa terjadi seperti itu? Itulah yang disebut the cycle of violence atau lingkaran kekerasan.

Kekerasan tidak terjadi sepanjang waktu, tetapi Anda akan mengalami masa-masa damai bahkan menyenangkan dengan pasangan anda. Maka sebaiknya Anda mengetahui pola lingkaran kekerasan itu.

  1. Fase Pertama; Ketegangan Yang Meningkat
    • Ketegangan mulai muncul. Pelaku mulai membuat insiden kecil, kekerasan lisan seperti memaki atau membentak serta kekerasan fisik kecil-kecilan.
    • Perempuan mencoba menenangkan atau menyabarkan pasangan dengan cara apapun yang menurutnya akan membawa hasil
    • Tetapi kemudian perempan merasa tidak banyak yang bisa dia lakukan karena sekuat apapun dia berusaha menyenangkan suami/pasangan kekerasan terus saja terjadi
    • Suami/pasangan melakukan penganiayaan sewaktu tidak ada orang lain.
    • Suami/pasangan mulai ada kekhawatiran bahwa istire/pasangannya akan pergi meninggalkannya karena ia tahu bahwa perbuatannya tidak pantas.
    • Pada diri suami/pasangan terdapat rasa cemburu yang berlebihan karena rasa memiliki yang tinggi
    • Perempuan semakin merasa takut dan menarik diri
    • Ketegangan kecil mulai bertambah
    • Ketegangan semakin tidak tertahankan oleh perempuan

  1. Fase Kedua; Penganiayaan
    • Ketegangan yang meningkat meledak menjadi penganiayaan
    • Suami/pasangan kehilangan kendali atas perbuatannya
    • Suami/pasangan memulai dengan kata-kata “ingin memberi pelajaran’ kepada perempuan bukan menyakiti
    • Penganiayaan terus terjadi meskipun Anda sudah terluka
    • Perempuan berusaha bersabar dan menunggusampai keadaan tenang kembali dengan pikiran bahwa kalau dia melawan ia akan semakin teraniaya
    • Ketegangan yang berasal dari “ketidaktahuan atas apa yang terjadi” mengakibatkan stress, sukar tidur, hilang nafsu makan atau malah makan berlebihan, selalu merasa lelah, sakit kepala, dan lain-lain
    • Setelah penganiayaan terjadi biasanya korban menjadi tidak percaya bahwa pasangannya memang bermaksud memukul dan mengingkari kenyataan bahwa pasangannya telah berlaku kejam terhadapnya
    • Pada fase ini biasanya korban tidak mencari pertolongan kecuali kalau lukanya parah


  1. Fase Ketiga; Minta Maaf dan Kembali Mesra
    • Pelaku meminta maaf kepada korban seraya berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya khususnya jika si perempuan mengancam akan pergi meninggalkannya. Si lelaki biasanya mengajukan banyak alasan kenapa penganiayaan itu terjadi. Tak jarang juga lelaki si pelaku bersikap seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Ia bertingkah seperti kehidupan berjalan normal
    • Si perempuan menyakinkan dirinya untuk mempercayai janji-janji pelaku sehingga ia tetap bertahan
    • Si perempuan menyakinkan dirinya untuk mempercayai janji-janjinya sehingga dia tetap bertahan
    • Korban merasa yakin bahwa “cinta mengalahkan segalanya”
    • Suami/pasangan menyakinkan betapa ia membutuhkan istri/pasangan


Setelah fase ketiga ini maka akan kembali ke fase pertama yaitu fase ketegangan yang meningkat dan kemudian terjadi fase penganiayaan. Dan siklus ini akan berulang kembali. Inilah yang disebut sebagai lingkaran kekerasan. Jangka waktu antar fase bisa cepat atau lambat. Dan ingatlah bahwa laki-lakilah yang mengontrol lingkaran kekerasan ini bukan perempuan.

Lingkaran kekerasan ini akan berlangsung terus menerus, artinya KDRT akan terus terjadi kecuali:
  • Lelaki bertanggungjawab atas tindakannya dan benar-benar berubah sikapnya
  • Perempuan meninggalkan situasi lingkaran dan/atau menempuh jalan hukum untuk menghentikannya.

Ingatlah Anda bukan merupakan objek kekerasan.  Hentikan kekerasan dalam rumah tangga sekarang juga !


Jika Anda mengalami kekerasan dalam rumah tangga lakukanlah:
  1. Bicarakan persoalan kekerasan ini dengan orang yang Anda percaya. Jangan menyimpan atau menutupi permasalahan ini. Karena KDRT adalah perbuatan salah dan kriminal;
  2. Mintalah bantuan dari lembaga yang mengerti dan menanggani persoalan ini. Anda bisa datang ke Women Crisis Centre atau kantor pengacara atau bahkan kantor polisi;
  3.  Mulailah mendekati keluarga atau teman sekiranya bisa menampung Anda jika diperlukan. Untuk menjaga keselamatan Anda sebaiknya keluarga atau teman itu yang tidak dikenal oleh pelaku;
  4. Susunlah rencana perlindungan diri, siapkan kebutuhan anak-anak, uang tabungan, baju, kunci rumah/mobil, selamatkan surat-surat penting. Sembunyikan ditempat yang aman jika sewaktu-waktu anda memerlukan mudah mendapatkannya;
  5. Laporlah ke polisi untuk mendapat perlindungan hukum. Saat ini Anda dapat mengkriminalkan pelaku KDRT karena telah ada UU Perlindungan KDRT No: 23 Tahun 2004;
  6. Kalau Anda terluka atau cedera karena penganiayaan, segeralah foto bagian tubuh yang terluka. Ini bisa menjadi alat bukti dalam proses hukum selanjutnya.
  7. Pergilah ke Rumah Sakit untuk meminta visum et repertum dan juga mengobati luka di tubuh Anda.


*****

Thursday, May 31, 2018

Duka untuk Surabaya

Dari Instagram: @saga.indonesia

Monday, April 30, 2018

Joko dan Jenar Jalan-Jalan



http://sikancil.org/joko-dan-jenar-jalan-jalan/

Kemunculan penerbit buku anak independen di Indonesia sungguh menyenangkan. Mereka membawa angin segar bagi cerita anak kita dengan pilihan tema, gaya ilustrasi, dan format cerita yang berbeda.

Pembaca SiKancil tentu menyadari, banyak rekomendasi kami yang merupakan karya penerbit buku anak independen, seperti Litara, Aksa Berama Pustaka, dan Seumpama. Nah, buku pilihan kali ini juga karya penerbit independen yang patut kita dukung: Saga Press.

Hadir dalam ukuran besar yang memaksimalkan ilustrasi, “Joko dan Jenar Jalan-Jalan” menyajikan cerita dalam dua lapis: penuturan yang disampaikan oleh teks, dan yang dihadirkan lewat gambar yang memperkaya cerita.

Lewat teks, kita diperkenalkan pada dua anak sepupu: Joko dan Jenar. Mereka akrab dan kerap menghabiskan waktu bersama, terutama jalan-jalan ke mal!
Namun, kecelakaan yang menimpa Jenar di rumah membuatnya harus kehilangan kemampuan berjalan kaki.

Joko yang ingin menghibur Jenar mengajaknya jalan-jalan. Jenar sangsi ia bisa bersenang-senang dengan sepupunya seperti dulu.

Dugaan Jenar benar. Bagi seseorang di kursi roda, mal bukan lagi tempat yang menyenangkan. Tentu, ia merasa sedih.

Sang bibi pun mengusulkan tempat lain. Di manakah itu?

Sebuah taman besar dengan akses bagi pengguna kursi roda. Tak kalah menyenangkan dari mal!
Nah, dari segi gambar, ada sejumlah aspek cerita yang disampaikan dengan indah. Pertama adalah keluarga Joko dan Jenar yang berbeda kepercayaan, namun memiliki hubungan sangat dekat. Ini tak disebut di teks, tapi bisa ditangkap sendiri oleh pembaca saat melihat jilbab Jenar dan ibunya, serta cara Joko berdoa bagi kesembuhan Jenar.

Saya yakin tak sedikit anak yang akan merasa gambaran ini mewakili keluarga mereka. Keluarga besar saya pun demikian: ada yang penganut Kristen, Islam, Buddha, dan Katolik. Inilah keluarga Indonesia!

Hal lain yang disajikan apik lewat ilustrasi adalah bagaimana orangtua Joko dan Jenar selalu mendampingi anak-anak mereka. Joko dan Jenar tidak berjalan-jalan sendiri, karena orangtua mereka senantiasa hadir di dekat mereka. (Cek spread di atas!)

Ketiga, ilustrasi juga menyampaikan keindahan tempat baru yang bisa dikunjungi Jenar setelah berkursi roda. Tanpa menyebut kata “taman”, ilustrasi menampilkan luasnya ruang gerak dan cantiknya lingkungan yang ramah bagi pengguna kursi roda – lengkap dengan “bidang miring,” istilah penting bagi pembaca cilik untuk memahami inklusivitas.

Dan memang, inklusivitas adalah napas cerita ini. Perbedaan agama maupun kemampuan fisik ditampilkan secara alami, karena pada intinya, ini adalah cerita tentang dua sahabat yang suka jalan-jalan bersama, dan ingin tetap begitu.

Bacakan buku ini untuk anak yang mulai tertarik dengan cerita dan gambar. Untuk anak yang sudah lebih besar, biarkan ia  membaca untuk Anda, lantas sambutlah berbagai komentar dan pertanyaan darinya – karena pendidikan inklusivitas tak mengenal istilah terlalu dini.

Herdiana Hakim


PS. Ingin memiliki “Joko dan Jenar Jalan-Jalan”? Kontak langsung Saga Press di nomor WhatsApp mereka: 0882 1039 7033.





Friday, March 30, 2018

[Telah Terbit] Joko dan Jenar Jalan-Jalan




[TELAH TERBIT] Joko dan Jenar Jalan-Jalan

Penulis                 : Allegra Sastradipura
Illustator              : Henny Yulianti
Editor                  : Titiana Adinda
Penerbit              : Saga Press
Halaman             : 24 halaman
Tahun Terbit       : Februari 2018
Genre                  : Buku Bergambar Anak

Sinopsis
Joko dan Jenar adalah saudara sepupu yang sangat dekat. Mereka kerap bertemu dan bermain bersama. Suatu hari, Jenar terjatuh dari anak tangga di rumahnya yang membuatnya kehilangan kemampuan berjalannya dan harus menggunakan kursi roda. Joko ingin menghibur Jenar dengan  mengajaknya jalan-jalan. Jenar sangsi ia bisa bersenang-senang dengan sepupunya seperti dulu. Dugaan Jenar benar. Bagi seseorang di kursi roda, mal bukan lagi tempat yang menyenangkan. Tentu, ia merasa sedih. Akhirnya mereka pergi ke sebuah taman besar dengan akses bagi pengguna kursi roda. Tak kalah menyenangkan dari mal!
Buku ini ingin menyampaikan pesan keberagaman dan persahabatan di masyarakat Indonesia. Keluarga Joko dan Jenar yang berbeda kepercayaan, namun memiliki hubungan sangat dekat. Ini tak disebut di teks, tapi bisa ditangkap sendiri oleh pembaca saat melihat jilbab Jenar dan ibunya, serta cara Joko berdoa bagi kesembuhan Jenar.
Miliki buku ini dengan membelinya seharga Rp.50.000,- (Lima puluh ribu rupiah) belum termasuk ongkos kirim. Silahkan hubungi Whatsapp di 0882 1039 7033 atau 08588 243 8950 dengan Dinda.








Tuesday, February 13, 2018

5 Tanda Dia Bukan Pasangan Hidup yang Tepat

http://lifestyle.kompas.com/read/2018/02/12/145425620/5-tanda-dia-bukan-pasangan-hidup-yang-tepat

KOMPAS.com - Banyak pasangan terburu-buru nikah di usia belia karena tren menikah muda sedang naik daun belakangan ini.

Jika kamu salah satunya, sebaiknya tanyakan pada diri sendiri apakah kamu sudah yakin benar bahwa si dia adalah pasangan hidup yang tepat?

Pasalnya, seperti kata pepatah cinta itu buta, sehingga rasa cinta yang terlalu besar bisa membutakan mata hati dan pikiran untuk dapat berpikir secara logis.

Nah, jangan cuma karena ingin mengikuti tren — atau gerah terus-terusan ditanya “kapan kawin?” — kamu jadi mengabaikan tanda-tanda bahwa si dia sebenarnya bukanlah pasangan yang tepat.

Memang tidak ada orang yang sempurna di dunia ini. Akan tetapi, ini bukan berarti kamu lantas menutup mata atas hal-hal buruk yang kamu terima dari pasangan.

Menurut Profesor Berit Brogaard dari University of Miami, akan sulit untuk mengetahui orang tersebut tepat atau tidak jika seseorang berada dalam pola pikir yang salah.

Nah, mungkin tanda-tanda berikut harus kamu perhatikan agar tidak menyesal di kemudian hari.

1. Merasa cemas dan tidak nyaman saat bersama

Apakah kamu selalu merasa sungkan atau enggan untuk berbicara karena takut menyinggung perasaannya? Atau kamu merasa cemas dengan penampilanmu dan tidak percaya diri di hadapannya?
Atau mungkin kamu selalu sibuk mencari topik pembicaraan di malam sebelum bertemu dengannya?

Cobalah untuk mencari tahu apa penyebab mengapa merasakan hal tersebut. Bicarakan hal-hal tersebut pada pasangan dan coba cari solusinya.

Jika terus terulang atau tidak juga membaik mungkin kamu harus membuka mata lebih lebar dan menerima kemungkinan terburuk bahwa bukan dia pasangan hidup yang tepat untukmu.

Sebuah hubungan dijalin bukan untuk menciptakan ketidaknyamanan. Justru sebaliknya, untuk membuat nyaman satu sama lain.

Jika kamu tidak pernah bisa menikmati waktu berdua bersamanya, nampaknya kamu perlu berpikir seribu kali lagi untuk membawa hubungan ini ke jenjang yang lebih serius.
Baca juga : 5 Tanda Kamu Berada dalam Hubungan yang Beracun

2. Berbeda prinsip

Prinsip adalah nilai dasar yang kamu anut dan tidak bisa dikompromikan. Kamu punya prinsip, begitu juga dengan si dia. Misalnya saja, prinsip pola asuh membesarkan anak yang berbeda.

Mengubah prinsip bisa saja dilakukan dengan berkompromi. Tetapi ini juga harus datang dari keinginan dan pertimbangan pribadi, bukan atas pengaruh apalagi paksaan orang lain.

Jika perbedaan prinsip dengan pasangan terlalu besar sehingga sulit untuk dipersatukan, nampaknya kamu perlu berpikir ulang untuk melanjutkan hubungan.

Jika memaksakannya, kemungkinan besar kamu akan mendapat masalah yang jauh lebih rumit di kemudian hari.

 Sedikit-sedikit lama-lama jadi bukit, ingat tentang pepatah ini, bukan? Nah, ini tentu tidak akan berdampak baik untuk masa depan hubungan.

3. Dia tidak menghormati

Sebuah hubungan asmara layaknya sebuah kemitraan. Kamu dan pasangan sama-sama ada di posisi yang setara, dan idealnya harus memiliki rasa saling menghormati serta menghargai satu sama lain.

Kurang atau tidak adanya rasa hormat akan menenggelamkan hubungan ke dalam jurang kehancuran.
Perilaku melecehkan dan merendahkan, bahkan sesederhana seperti tidak meminta maaf ketika berbuat salah atau malah balik menyudutkan, adalah tanda waspada yang benar-benar perlu diperhatikan baik-baik.

Apalagi jika ia sampai tega bermain kasar dan menghardik dengan kata-kata yang bersifat menghina.
Pelecehan secara verbal, emosional, psikologis, hingga seksual adalah perusak hubungan yang sering diabaikan.

Terlebih, ada banyak sikap tidak hormat yang bisa ditunjukkan dengan cara halus dan manipulatif sehingga kamu mungkin tidak menyadarinya. Jangan tolerir dan maklumi perilaku ini, secinta apapun pada pasangan.

Baca juga : 7 Tanda Hubungan Asmara Beracun, dan Harus Diakhiri 
 
4. Pasangan hanya meminta perhatian, tanpa berlaku sebaliknya

Siapa, sih, yang tidak mau dihujani dengan cinta dan kasih sayang setiap waktu? Akan tetapi, sebuah hubungan asmara yang sehat seharusnya ditandai dengan kedua belah pihak yang sama-sama berusaha untuk menyenangkan satu sama lain

Jangan hiraukan perilaku pasangan yang posesif dan egois. Misalnya, terus-terusan cek hape kamu tanpa alasan, selalu ingin tahu keberadaanmu tiap menitnya, hingga membatasi atau bahkan melarang kamu jalan-jalan dengan teman lama atas dasar “ingin berduaan” saja.

Sebaliknya, ketika kamu benar-benar membutuhkan perhatiannya, ia tidak pernah ada untukmu — sulit dihubungi atau selalu alasan sibuk.

Jika kamu merasa terombang-ambing, dinomorduakan, dan kerap bertanya-tanya status sebenarnya di mata dirinya, cobalah berpikir lebih jernih apakah kamu benar-benar akan bahagia bersama dengan orang yang tidak pedulian?

5. Pasangan tidak bisa memberi rasa aman

Coba ingat-ingat, apa yang pasangan lakukan ketika kamu sedang emosi atau sedih. Bagaimana cara ia mengatasi emosi itu?

Apakah ia mencoba untuk menjadi pendengar yang baik dan menghibur di kala dibutuhkan, atau malah diam saja meninggalkan kamu sementara ia sibuk sendiri?

Dr. Brown mengatakan, pasangan yang mampu memberikan kenyamanan dalam kondisi apapun menjadi salah satu pertanda kuat bahwa kamu telah menemukan orang yang tepat.

Namun sebaliknya, jika pasangan cenderung bersikap cuek bahkan mendiamkanmu tanpa melakukan apapun, bisa jadi dia bukan pasangan yang tepat.

Hal terpenting ialah jangan terburu-buru dalam memutuskan apakah si dia merupakan pasangan hidup yang tepat.

Lihat setiap prosesnya dan tanyakan pada diri, apakah dia benar-benar orang yang kamu cari untuk menghabiskan sisa hidup bersama?

Wednesday, January 31, 2018

5 Langkah Hentikan KDRT

 http://smartmama.com/2017/12/06/5-langkah-menghentikan-kdrt/

Komnas Perempuan Indonesia mengungkapkan terdapat 259.150 kasus kekerasan atas perempuan sepanjang tahun 2016. Data ini dihimpun dari Pengadilan Agama & lembaga mitra pengadaan layanan di Indonesia. Di ranah personal/rumah tangga, kekerasan terhadap istri menempati urutan kasus tertinggi  yang sebanyak 5.784 kasus.

Di dunia, fakta kekerasan terhadap istri juga menjadi salah satu topik yang tidak pernah berhenti diperbincangkan. Jika Anda menemui kasus KDRT dengan berbagai alasan, mari bantu untuk memutus mata rantainya.

Dalam rangka Hari Hak Asasi Manusia Sedunia yang jatuh pada tanggal 10 Desember, UN Women merilis kebijakan untuk membantu memutus mata rantai kekerasan terhadap perempuan, khususnya kasus dalam rumah tangga:

1. Sebarkan informasi positif. Bahwa apapun alasannya, kekerasan terhadap perempuan tidak dibenarkan. Dalam hal ini, UU No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga Pasal 5 menyebutkan ada 4 bentuk kekerasan diantaranya kekerasan fisik, psikis, seksual, dan penelantaran rumah tangga.

2. Speak out. Setiap kali menemui 4 bentuk tindak kekerasan di sekitar Anda, segera laporkan kepada kantor kepolisian terdekat. UU diatas juga memberikan perlindungan bagi saksi, keluarga, teman korban, serta pendampingnya.

3. Ubah kebiasaan. Mari sebarkan pandangan positif tentang maskulinitas yang tidak hanya berbasis keperkasaan secara fisik, tetapi kebaikan hati dan keinginan untuk saling menghargai.

4. Berikan support pada korban. Baik berupa donasi atau pemberian support psikologis tidak hanya kepada korban KDRT yang kita kenal, tetapi korban – korban lain melalui organisasi pendukung seperti Komnas Perempuan.

5. Pelajari lebih lanjut tentang bentuk, penyebab & definisi kekerasan yang kerap terjadi. Pada umumnya, penyebab utama terjadinya KDRT adalah faktor diskriminasi dan ketidakadilan; baik dalam persoalan status maupun intelektualitas. Always remember that a gender based – violence is never woman’s fault. (Nathalie Indry/KR/Photo: Istockphoto, UN Women)


Tuesday, November 28, 2017

Karena Seks Memang Harus Bebas

http://voxpop.id/seks-bebas/

 
Peristiwa sepasang muda-mudi yang diarak bugil karena dituduh bersetubuh bukan kali pertama terjadi di Indonesia. Ribuan pasangan lain telah diarak bugil dan dipermalukan oleh segelintir warga. Otoritas dan otonomi tubuh diberangus, dijadikan bulan-bulanan di jalanan.
Sementara, ketika perempuan diperkosa atau dipukuli suami hingga dijemput ajal, tak ada warga yang hendak mendobrak rumah tetangganya.
Ketika perempuan melaporkan kejadian pemerkosaan, segelintir warga itu malah berseloroh, “Pakai baju apa? Keluar malam sampai jam berapa? Nongkrongnya di mana?” Ada yang salah dengan prioritas warga dalam mendefinisikan ikut campur.
Bagaimana bisa warga begitu marah pada mereka yang merayakan tubuh, sementara membiarkan pemerkosaan dan pemberangusan otonomi tubuh? Apa yang membuat warga sebegitu beringas?
Lantas, kuasa mana yang berhak mendominasi tubuh, sehingga mereka merasa berhak menelanjangi dan mempermalukan tubuh? Kuasa warga? Negara? Agama?
Asketisme memang sering kali menuntut penyangkalan atas tubuh. Kebutuhan seksual dinegasikan, persetubuhan masuk dalam hitungan dosa. Burukkah tubuh, mengganggu jiwakah ia?
Negara tak mau kalah dalam urusan mengatur tubuh. Negara muncul dengan Undang-Undang Anti Pornografi dan Pornoaksi yang mengusung tubuh sebagai bahasan utama. Negara berkeras bahwa tubuh sosial harus diatur agar tak memicu degradasi moral.
Hal itu mengingatkan kita pada abad pertengahan di Eropa yang memenjarakan Sade tanpa diadili, karena menulis Justine dan Juliette yang dinilai erotis. Busukkah tubuh hingga harus ditahan-tahan keberadaannya?
Sebegitu takutnya negara atas otonomi dan otoritas masyarakat atas tubuh, sehingga pada 2012 santer terdengar soal pencanangan pendidikan anti seks bebas oleh Kementerian Pendidikan. Apa itu seks bebas? Bukankah seks harus bebas?
Seks yang tidak bebas namanya pemerkosaan. Sementara seks yang tidak bebas dan berbayar adalah transaksi.
Ambiguitas dari istilah seks bebas ini sering menjadi inti persoalan pemberagusan otonomi tubuh, pemerkosaan atas hak seksual.
Katanya pasangan yang divideokan beberapa waktu lalu tidak sedang berhubungan seks. Kalaupun mereka berhubungan seks, seberapa salahnya sampai harus diarak telanjang?
Sekali lagi, warga tidak pernah begitu marahnya hingga mendobrak dan mengarak pelaku pemerkosaan. Padahal, mana yang lebih salah antara seks yang dilakukan dengan terhormat, atas dasar suka sama suka, dan selesai tanpa masalah, dengan seks dalam pernikahan namun penuh pemerkosaan dan kekerasan?
Atau, dibanding seks dalam pernikahan anak di bawah umur? Seks dalam pernikahan tanpa menggunakan kondom, padahal pasangannya suka membeli jasa pekerja seksual?
Atas nama seks bebas, warga lebih suka memberangus seks yang dilakukan dengan konsen, dibanding tindakan kriminal.
Katanya seks bebas adalah budaya barat yang urakan. Orang barat, katanya lagi, kalau berpakaian lebih terbuka dan kalau berhubungan seks seenaknya saja. Sementara orang timur lebih sopan, tertutup, dan tidak asal berhubungan seks. Padahal, di barat tidak ada istilah seks bebas.
Di luar perdebatan seks bebas, pemerintah Indonesia justru menjamin hak warganya untuk berhubungan seks. Hak atas kerahasiaan pribadi dalam menjalankan kehidupan reproduksi ini tertera dalam rekomendasi 12 hak kesehatan reproduksi dan seksualitas dalam International Conference on Population and Development (ICPD) di Kairo, Mesir, pada 1994, yang juga ditandatangani oleh Indonesia.
Sementara penelanjangan dan pengarakan yang dilakukan warga tak sekadar tindakan kekerasan biasa, tetapi melanggar UU No 7/1984 mengenai pengesahan konvensi penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan (CEDAW).
Sama seperti kasus-kasus pemerkosaan yang merupakan masalah relasi kuasa alih-alih libido pemerkosa, penelanjangan adalah unjuk gigi atas relasi kuasa warga dalam bentuk massa. Segelintir warga merasa memiliki kuasa untuk menjatuhkan hukuman terhadap pasangan yang katanya melakukan seks bebas.
Libido warga untuk menelanjangi dan mengarak bisa jadi upaya untuk membuat efek jera bagi mereka yang memiliki nilai-nilai yang tak sesuai dengan keinginan warga. Namun, jika objektifnya adalah memang untuk menghindari seks bebas, tujuan tersebut terbukti tidak pernah berhasil.
Lagipula, sekali lagi, apa itu seks bebas?
Kecurigaan saya adalah bahwa warga sering kali menyamakan seks bebas dengan seks yang tidak bertanggung jawab. Seks yang tidak bertanggung jawab menjadi krusial, lantaran berkaitan dengan otonomi dan otoritas tubuh (termasuk soal konsen), penciptaan manusia baru, serta penyebaran penyakit.
Sementara untuk seks bebas, siapa yang berhak melarang dua orang yang ingin berhubungan seks, jika tidak ada kerugian ditimbulkan? Sejauh mana pelarangan bisa efektif?
Pelarangan tidak pernah menjadi cara yang efektif. Negara-negara bagian di Amerika yang tidak mengajarkan pendidikan seks sama sekali, atau sebatas melarang seks sebelum menikah seperti Texas, mencatatkan jauh lebih banyak kehamilan remaja jika dibandingkan dengan negara bagian yang memiliki pendidikan seks yang komprehensif seperti California.
Angka kehamilan remaja di California turun hingga 74% dalam kurun waktu 24 tahun sejak pemerintahnya berinvestasi pada kurikulum pendidikan seks yang komprehensif.
Seks bertanggung jawab juga dapat menghindari penyakit menular seksual, termasuk HIV dan AIDS. Indonesia termasuk tiga negara dengan kasus HIV dan AIDS tertinggi di Asia dan Pasifik. Padahal, kebanyakan negara lain justru menunjukkan penurunan jumlah kasus.
Mirisnya lagi, jumlah ibu rumah tangga di Indonesia dengan HIV dan AIDS justru lebih tinggi daripada populasi kunci. Populasi kunci yang dimaksud antara lain pekerja seks dan pengguna jasa pekerja seks.
Kalau sudah begini, masih pentingkah ribut-ribut soal seks bebas? Apalagi seks yang tidak bebas justru kerap menjadi sumber petaka bagi perempuan, dalam tameng perkawinan.
Pemerkosaan dalam perkawinan adalah bentuk nyata seks yang tidak bertanggung jawab, karena telah memberangus otonomi dan otoritas pemilik tubuh.
Namun, apakah hal ini termasuk seks bebas? Tentu tidak, sebab itu warga tak hendak marah-marah walaupun tahu seorang istri lebam-lebam habis dipukuli dan diperkosa suaminya semalaman.
Warga dalam jumlah yang banyak memang sering kali merasa berkuasa dan dengan mudah melegitimasi kesewenang-wenangan. Padahal, mereka cuma cemas karena dunia tidak selalu sejalan dengan keinginan mereka.

Sunday, October 29, 2017

Wednesday, September 27, 2017

Monday, July 31, 2017

INI DIA LANGKAH YANG HARUS DILAKUKAN UNTUK PARA KORBAN KDRT!


Kasus KDRT masih cukup sering terjadi di Indonesia dan kebanyakan korbannya adalah perempuan. Namun sayangnya, banyak perempuan yang tidak berani melaporkan kasus yang dialaminya kepada pihak kepolisian ataupun mengajukan gugatan cerai. Para istri korban KDRT takut hidupnya justru lebih sengsara apabila berpisah dengan suami.

Kasus KDRT masih cukup sering terjadi di Indonesia dan kebanyakan korbannya adalah perempuan. Namun sayangnya, banyak perempuan yang tidak berani melaporkan kasus yang dialaminya kepada pihak kepolisian ataupun mengajukan gugatan cerai. Para istri korban KDRT takut hidupnya justru lebih sengsara apabila berpisah dengan suami.
Tindak pidana kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) secara khusus diatur dalam UU Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (UU KDRT).
Pada Pasal 1 Angka 1 UU KDRT menjelaskan definisi kekerasan dalam rumah tangga adalah :
“setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga.”
Rumusan Pasal di atas, dengan menggunakan frasa “terutama perempuan”, secara spesifik memberikan perhatian khusus terhadap aspek perlindungan kaum perempuan. Hal ini perlu dipertegas karena perempuan dianggap memiliki posisi yang rentan mengalami KDRT. Secara lahiriah, perempuan memiliki kekuatan fisik yang lebih lemah ketimbang laki-laki.Selanjutnya yang perlu dipahami, ruang lingkup KDRT meliputi 4 (empat) aspek, yaitu kekerasan fisik, kekerasan psikis, kekerasan seksual, dan penelantaran rumah tangga.
Yang dimaksud dengan kekerasan seksual adalah setiap perbuatan yang berupa pemaksaan hubungan seksual dengan cara tidak wajar dan/atau tidak disukai, atau pemaksaan hubungan seksual dengan orang lain untuk tujuan komersial dan/atau tujuan tertentu. Sedangkan, yang dimaksud dengan penelantaran rumah tangga adalah dalam hal suami tidak menafkahi istri dan anak-anaknya.
Lalu langkah apa yang perlu dilakukan jika menjadi korban KDRT?
  1. Apabila mengalami KDRT, khususnya jika bentuknya kekerasan fisik, maka korban harus segera lapor ke pihak kepolisian. Di kepolisian nanti korban akan diarahkan untuk melakukan visum et repertum di rumah sakit, yang dilakukan oleh orang yang berkompeten. Merujuk pada Hukum Acara Pidana yang berlaku di Indonesia, maka hasil visum er repertum dapat dikategorikan sebagai alat bukti surat yang diajukan ke pengadilan dalam proses pembuktian.
  1. Biasanya apabila laporan dilaporkan ke POLRES setempat akan dirujuk ke bagian unit Perempuan dan Anak.
  1. Korban akan dimintai keterangannya sebagai saksi di kepolisian. (dalam hal ini korban diharap bisa membantu kepolisian untuk mengungkap tindak pidana yang terjadi serta bukti-bukti yang ada untuk diserahkan).
  1. Apabila Polisi merasa alat bukti tersebut cukup (minimal 2 alat bukti) maka pelaku dapat ditingkatkan statusnya menjadi TERSANGKA. Dalam hal ini Polisi berhak melakukan penahanan terhadap tersangka.
  1. Catat siapa penyidik yang menangani kasus tersebut. hal ini diperlukan untuk mempermudah korban mengikuti perkembangan penanganan kasus.
Rahmi Uzier