Wednesday, November 16, 2016

The Black Jaguar White Tiger

video

5 Langkah Membantu Korban KDRT


KOMPAS.com - Apa yang akan Anda lakukan, saat mengetahui kakak, adik, sahabat, teman baik di kantor, atau siapa pun orang yang Anda sayangi dan pedulikan, menjadi korban KDRT? Dalam kondisi seperti ini, tak cukup bagi Anda untuk menunjukkan sikap peduli atau keinginan kuat untuk membantunya keluar dari penderitaan KDRT. Anda pun tak bisa sembarangan bertindak, karena jika salah bersikap, Anda justru berpotensi menyakiti si korban. Korban KDRT pun mengalami kekerasan berlapis, dari pelaku kekerasan dan dari Anda, orang yang berniat membantunya.
Saat dorongan untuk membantu begitu kuat, temukan cara tepat. Misalnya, sepupu Anda mengalami kekerasan psikis dari suaminya. Sang suami terlalu mengontrolnya, dan tidak ingin sepupu Anda meluangkan waktu kosong selain dengannya. Atau kondisi lain seperti suami kakak Anda cemburuan meski Anda tahu tak ada alasan untuk cemburu karena kakak Anda tak pernah melakukan apa pun yang berpotensi membuat suaminya merasa tak nyaman atau merasa terancam.
Kalau Anda menemukan tanda-tanda tersebut dalam hubungan pernikahan orang terkasih Anda, itu adalah bentuk kekerasan psikis dalam rumah tangga. Anda bisa melakukan sesuatu, tapi jangan sampai memperburuk situasi, bahkan membahayakan keselamatan orang terkasih Anda. Jangan pula menciptakan kondisi dengan menghujani pertanyaan kepada si korban, yang membuatnya merasa terasing. Berikan dukungan terhadap korban namun hindari konflik yang sifatnya emosional.
Berikut sejumlah caranya:
1. Edukasi diri. Cari organisasi, lembaga, atau komunitas yang bisa membantu Anda mendapatkan pengetahuan tepat mengenai kekerasan terhadap perempuan atau KDRT. Melalui jaringan ini Anda bisa mencari tahu cara yang lebih tepat dalam penanganan kekerasan. Tanpa memiliki pengetahuan yang baik, Anda cenderung bersikap tanpa arah, yang bisa jadi justru merugikan korban.
2. Pendekatan tepat. Lakukan pendekatan dengan orang yang Anda sayangi, dan menjadi korban dalam perspektif Anda. Karena bisa jadi, kakak atau sepupu atau siapa pun yang menurut Anda adalah korban kekerasan (psikis utamanya), tak selalu merasa sebagai korban. Jangan mudah menyerah jika memang Anda berniat membantunya. Karena bisa jadi ia tidak menghargai usaha Anda. Sebagian perempuan merasa kontrol berlebihan dari suaminya adalah bentuk ungkapan cinta. Kalaupun ia sadar perilaku suaminya salah, ia kerap merasa tak bisa hidup tanpanya. Situasi ini sulit dan tak mudah bagi Anda untuk membantu si korban, selembut apa pun pendekatan yang Anda lakukan. Jadi cari pendekatan yang tepat jika ingin membantunya.
3. Jangan mengkritik. Niat baik untuk membantu jika dilakukan dengan cara kurang tepat takkan membuahkan hasil. Dalam pandangan Anda, sikap suaminya jelas keliru dan merupakan bentuk kekerasan. Tapi belum tentu pandangan korban juga demikian. Ungkapkan pandangan Anda tanpa terkesan menghakimi atau mengkritik. Alih-alih mengeluhkan perilaku pasangannya, Anda bisa menawarkan bantuan, misalnya dengan menanyakan apa yang bisa Anda lakukan untuknya? Kalau si korban merasa tertarik dengan pertanyaan Anda, biarkan ia yang mulai mengungkapkan kerisauannya. Peran Anda adalah mendengarkannya. Biarkan ia bicara tanpa perlu Anda pancing dengan pertanyaan apa pun. Sikap ini akan membuatnya merasa nyaman berbicara dengan Anda.
Sekali lagi, tugas Anda adalah mendengarkan bukan menilai, apalagi menghakimi. Ketika si korban merasa memiliki dukungan, ia akan lebih terbuka dengan Anda. Dan tetaplah menjadi pendengar setianya. Dampingi ia sampai ia merasa siap untuk bertindak melakukan sesuatu untuk memperbaiki kehidupannya. Jadilah pendengarnya, namun tunjukkan juga dukungan dan selipkan motivasi tanpa mendominasi pembicaraan. Ajak ia bicara ketika ia siap melakukannya. Jangan memaksanya bicara karena Anda begitu ingin membantunya keluar dari masalah. Meski Anda terkesan pasif, ada kalanya Anda bisa bersikap tegas terutama ketika situasi di rumah tangganya mulai membahayakan jiwanya. Anda perlu tegas untuk membantu korban membuat pilihan. Dukungan yang tepat dari orang terdekat akan memberanikan dirinya dalam bertindak.
4. Berhati-hati. Ingatkan teman atau saudara Anda bahwa pasangannya yang melakukan kekerasan psikis (terlalu protektif) juga akan mengontrol berbagai tindakannya. Kalau si korban mencari informasi mengenai penanganan kekerasan melalui komputer misalnya, si pelaku kekerasan akan mengetahuinya karena ia akan mencari tahu apa yang dilakukan korban. Pelaku tak hanya memonitor korban, tapi juga komputer atau telepon yang digunakannya, untuk mengetahui apa yang telah dilakukannya. Jadi ingatkan orang terdekat Anda untuk mengunjungi tempat umum atau rumah teman yang bisa dipercaya jika ingin mencari informasi atau membutuhkan perlindungan dari pihak berwajib. Mungkin sulit bagi Anda untuk meyakinkannya hidup tanpa pasangan pelaku kekerasan. Tapi Anda bisa membuatnya membayangkan bagaimana bisa hidup lebih bahagia tanpa pasangan pelaku kekerasan. Dukungan dan perhatian Anda bisa memberikan pengaruh besar bagi korban kekerasan. Namun Anda perlu melakukan pendekatan tepat terhadap situasi sulit ini dengan sangat hati-hati, demi keselamatan Anda dan korban.
5. Bantu cari rumah singgah sebatas perencanaan. Kalau orang terdekat korban kekerasan memutuskan meninggalkan pasangannya, bantu ia menemukan rumah singgah yang tepat dengan perencanaan yang baik. Apalagi jika ada anak, pastikan ketika korban meninggalkan pasangannya, ia telah memiliki tempat tinggal yang aman. Kalau perlu cari rumah singgah yang menampung korban kekerasan, yang keberadaannya tidak diketahui oleh siapa pun. Ini penting untuk menjaga keselamatan Anda, terutama korban, dari kemungkinan tindakan kekerasan lanjutan dari si pelaku.
Ketika korban KDRT meninggalkan pasangannya dan memutuskan mengakhiri hubungan, risiko kematian tetap ada. Risiko ini tak hanya mengintai korban, tapi juga anak mereka, bahkan Anda, orang yang berniat membantu korban untuk mendapatkan hidup lebih layak dan bahagia. Jadi, kalau Anda memang peduli, minimalisasi risiko ini dengan mendampingi korban merencanakan atau mencari tempat tinggal atau rumah singgah, namun pastikan semuanya aman, untuknya juga Anda. Artinya, biarkan si korban yang memilih tempat tinggalnya, Anda hanya perlu membantu merencanakan dan memberikan dukungan, bukan menentukan keberadaannya.
Editor: Dini

Saturday, October 29, 2016

Rawat Gigi di OMDC Mampang Prapatan



Rabu minggu lalu (12 Oktober 2016) Aku pergi untuk perawatan gigiku ke OMCD (Oktri Manessa Dental Care) di Mampang Prapatan. Aku tahu klinik gigi ini dari instagram mereka. Aku sampai di OMCD jam 9.25 WIB. Klinik belum buka, bukanya jam 10.00 WIB. Jadi aku nunggu di depan klinik, untung ada bangku-bangku untuk duduk menunggu. Pas buka aku diantar naik lift, karena aku kesulitan kalo naik tangga akibat kaki kananku yang lumpuh.
Di lantai 2 aku daftar sebagai pasien baru di bagian registrasi. Kemudian disuruh nunggu di ruang tunggu. Sebagai informasi klinik gigi OMCD ini nuansanya nggak kaya klinik gigi pada umumnya. Klinik ini bernuansa warna fiducia (pink). Dari warna tembok, seragam pekerjanya, peralatan perawatan giginya, kursi periksanya, sampai gelasnya. Di saat duduk menunggu di ruang tunggu disediakan minum dgn gelas warna pink. Ditanya mau minum apa? Air putih? teh? Atau kopi? Aku milih air putih aja. Lalu diberikan satu gelas air putih di gelas warna pink.
Lima belas menit menunggu, aku dipanggil di ruang periksa di kamar nomer 4 dengan drg.Sandra. Aku kira usia drg.Sandra masih muda. Soalnya mukanya imut-imut. He..He.. Aku ditanya apa keluhanku dan ambil perawatan apa? Aku bilang aku pingin membersihkan karang gigi dan menambal gigi geraham dan gigi depanku. Aku bilang aku sudah lebih dari 12 tahun nggak pernah ke dokter gigi karena aku sempat sakit meningitis (radang selaput otak).
Kemudian drg.Sandra bilang mari kita lihat kondisi giginya pake kamera ya. Maksudnya ada kamera kecil yang masuk ke mulutku dan menyorot gigi-gigiku jadi aku bisa melihatnya di televisi yang terletak di depanku. Alamak! Mengerikan bgt kondisi gigiku. He..He.. Ada gigi yang berlubang besar dan berlubang sangat kecil. Tapi untungnya karang gigiku nggak banyak amat, jadi nggak gitu malu hati. He..He..
Kata drg.Sandra dua gigi gerahamku akan diperiksa apakah bisa langsung ditambal atau tidak. Sebab ada yang satu yang agak besar lubangnya dan nampaknya sudah kena saluran akarnya. Untuk gigi depanku yang sudah menghitam kemungkinan besar sudah mati syarafnya. Nanti harus dirontgen dulu gigi geraham yang lubangnya besar dan untuk gigi depannya. Setelah didapat hasil rontgennya baru akan ditentukan treatment apa yang sesuai dengan gigi depanku itu. Akhirnya untuk gigi geraham itu hanya dilakukan penambalan sementara aja.
Drg.Sandra menduga gigiku rapuh dan mudah rusak karena efek samping dari obat-obatan termasuk antibiotik yang aku minum dalam waktu lama dan dalam dosis tinggi ketika aku pemulihan dari meningitis (radang selaput otak). Sebagai informasi aku minum obat-obatan untuk sakit meningitis kurang lebih selama 7 tahun.
Aku nggak takut ke dokter gigi cuma agak malas karena biasanya ke dokter gigi mahal aja. He..He.. Kayanya klinik gigi OMDC ini agak terjangkau harganya. Pelayanannya juga bagus.
Jadi di hari itu aku cuma membersihkan karang gigi, menambal laser untuk gigi gerahamku dan gigi depanku yang berlubang kecil. Aku buru-buru tambal untuk gigi depanku mumpung masih kecil lubangnya.
Selanjutnya aku diberi surat pengantar untuk rontgen untuk 3 gigiku yaitu gigi geraham dan dua gigi depanku. Gigi gerahamku akan dilakukan perawatan saluran akar untuk kemudian ditambal permanen. Sedangkan untuk gigi depanku akan ditreatment sesuai dengan hasil rontgennya.
Aku Insya Allah akan ke klinik gigi ini lagi pada hari Rabu, 26 Oktober 2016. Nanti deh aku ceritain lagi apa yang terjadi dengan perawatan lanjutan gigiku ini.
Kontak OMDC Mampang Prapatan:
Jl.Buncit Raya No.6
Mampang, Jakarta Selatan 12740
Telpon: 021-7919 6767 / 7919 6565
Instagram: 
https://www.instagram.com/omdc_official/
Whatsapp: 085711942068 .


Sunday, October 9, 2016

5 Perilaku Si Dia Jadi Penanda Kekerasan

KOMPAS.com — Meski si dia tidak melakukan kekerasan fisik kepada Anda, bukan berarti Anda tak mengalami kekerasan dalam hubungan berpasangan. Ketika Anda diperlakukan tidak semestinya, tidak dihargai, tersakiti secara emosi, ini menjadi penanda hubungan Anda dalam bahaya karena kekerasan telah terjadi tanpa disadari.

Anda harus mampu membedakan antara adu argumen biasa dan kekerasan emosional. Kebanyakan perempuan akan sepakat menolak kekerasan fisik dalam hubungan, lantas bagaimana dengan kekerasan emosional? 

Anda harus mulai mengenali perilaku si dia, yang bisa berpotensi menimbulkan kekerasan dalam hubungan, meskipun tak terjadi kontak fisik dengannya. Jika Anda menemukan lima perilaku ini pada si dia, hubungan Anda berada dalam zona bahaya karena dia telah melakukan kekerasan kepada Anda.

1. Suasana hatinya sangat mudah berubah 
Tentunya siapa pun bisa berubah suasana hatinya. Perilaku ini patut Anda waspadai jika suasana hati pasangan sering sekali berubah dengan sangat mudah. Tandanya, Anda tak pernah bisa menebak suasana hatinya karena selalu saja berubah. Ketika Anda berbuat kesalahan, si dia akan dengan mudah menumpahkan emosinya. Saat si dia sedang merasa kesal terhadap sesuatu, yang penyebabnya belum tentu karena sikap Anda, si dia juga selalu menyalahkan Anda. 

Anda pun pada akhirnya berusaha menghindari masalah dengannya, sementara dia tetap saja bersikap moody. Pada akhirnya, Anda pun mulai merasa tak nyaman saat berada di dekatnya, bahkan merasa ketakutan.

2. Selalu kontra 
Anda dan pasangan memang tak harus selalu sepaham tentang sesuatu. Namun jika sikap dia selalu saja kontra terhadap Anda, dalam hal apa pun, mulailah waspada. Dia juga selalu mendominasi percakapan dan hanya mempertahankan pendapatnya. Dia tidak menunjukkan ketertarikannya terhadap pendapat Anda atau orang lain. Bahkan, si dia menyebut Anda "bodoh" atau "naif", juga perkataan buruk lain yang meremehkan dan menjatuhkan harga diri Anda.

Ironisnya, semua sikap ini hanya ditunjukkannya saat Anda hanya berdua dengannya. Di depan umum, si dia akan menunjukkan pesonanya sehingga teman Anda bahkan keluarga tak melihat sifat aslinya karena di depan mereka, pasangan Anda bersikap berbeda, tak seperti saat bersama dengan Anda.

3. Selalu curiga
Si dia tidak percaya pada Anda dan selalu saja curiga. Bahkan, dia mengira semua hal yang Anda lakukan bertujuan menyakitinya. Dia menuduh Anda menggoda pria lain, padahal Anda tak pernah melakukannya. 

4. Sulit diajak bicara
Anda merasa bermasalah dengan hubungan dan sikapnya, tapi setiap kali Anda ingin membahasnya selalu saja berujung pada pertengkaran. Anda berusaha mengungkapkan perasaan Anda dan betapa sikapnya telah menyakiti Anda. Namun, si dia tak pernah bisa mengerti, bahkan sulit diajak bicara. Anda pun mulai berhenti membicarakannya. Parahnya lagi, si dia kemudian akan menyalahkan Anda atas semua kesalahpahaman yang terjadi. 

5. Membuat Anda merasa terjebak
Anda tak tahu lagi harus berbuat apa dan merasa terjebak dalam hubungan ini. Anda merasa bingung. Anda tidak bahagia bersamanya. Namun, Anda juga tak yakin, bahkan tak tahu harus melakukan apa untuk mencari jalan keluarnya.

Wednesday, September 21, 2016

5 Tipe Pria yang Sebaiknya Jangan Anda Nikahi

http://female.kompas.com/read/2016/09/18/214027920/5.tipe.pria.yang.sebaiknya.jangan.anda.nikahi.

KOMPAS.com –- Mencari pasangan hidup tak semudah membalikan telapak tangan. Sejumlah pertimbangan harus Anda pikirkan secara matang. Terutama mengenai karakter dan kebiasaan pasangan pria Anda.
Susan Krauss Whitbourne, Ph.D., seorang profesor psikolog dan sains otak, mengungkapkan lima tipe pria yang sebaiknya dihindari oleh wanita yang memiliki tujuan menikah dan membangun keluarga. Berikut uraiannya:

Pria yang tak percaya dengan monogamiPasangan pria Anda mendeklarasikan bahwa dirinya tidak percaya dengan prinsip monogami, segera ambil langkah seribu dan tinggalkan. Poligami bukan hal yang mudah dipraktekkan secara adil. Sebab, bisa jadi pasangan Anda sedang mencari celah untuk selingkuh.

Pria usia 50 tahun dan tidak percaya komitmenSejumlah wanita memang memiliki ketertarikan dengan pria lanjut usia karena dianggap kebapakan dan bisa membimbing karena jauh lebih dewasa. Namun, jika si dia telah berusia 50 tahunan dan tidak pernah menikah, ini berarti dia bukan tipe pria yang bisa bertanggungjawab dalam hubungan.
Jangan pikir panjang, tinggalkan. 

Pria yang tidak menerima keseteraan jenderTipe ini masih memiliki pikiran konservatif, di mana tugas istri adalah di dapur dan mengurus anak. Anda yang merupakan seorang wanita modern yang memiliki agenda besar dalam hidup, pastinya tidak akan cocok dengan tipe pria yang “memenjarakan” wanita untuk tidak berkembang.
Pria egois dan hanya mencintai diri sendiriHanya ada satu orang di dunia ini, yaitu dirinya sendiri. Anda dan warga dunia lainnya, tidak pernah berarti di mata pria egosentris.
Jangankan memikirkan kebahagiaan Anda, dia bahkan tidak menganggap Anda benar-benar istimewa. Dia mungkin saja berpikir, Anda harusnya bangga bisa bersama dia. Benar-benar menyebalkan. 

Pria kekanak-kanakanDia selalu ingin tampak muda dan selalu ingini dilayani dalam segalam hal. Anda harus menyiapkan bajunya, makanannya, dan kebutuhan harian lainnya.
Pria tipe ini selalu ingin menang sendiri dan tidak bisa menyelesaikan masalah dengan bijak.
Dari mulai cara pakainnya, hingga pilihan teman dan aktivitas pilihan akhir pekannya. Kalau sudah begini, susah rasanya untuk melangkah lebih jauh.
Penulis: Kontributor Female, Rakhma
Editor: Syafrina Syaaf
SumberPsychology Today,

Wednesday, August 31, 2016

Penggabungan Perkara Gugatan Ganti Kerugian Pada Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan


1. Dasar penggabungan perkara Gugatan Ganti Rugi diajukan

Berdasarkan pasal 98 ayat (1) KUHAP, Penggabungan perkara Gugatan ganti rugi dilakukan jika suatu perbuatan yang menjadi dasar dakwaan yang di dalam pemeriksaan perkara pidana oleh pihak Pengadilan telah menimbulkan kerugian bagi orang lain. Dengan adanya penggabungan perkara gugatan ganti rugi pada perkara pidana ini adalah supaya perkara gugatan pada waktu yang sama diperiksa serta diputus dengan perkara pidana yang bersangkutan. Tentunya penggabungan ini akan menguntungkan korban karena dengan cara ini kompensasi atas kerugian terhadap korban akan dapat didapatkan dengan cepat, murah dan sederhana.


2. Kapan Gugatan Ganti Kerugian diajukan

Apabila berkas perkara telah masuk dalam Pengadilan Negeri maka pihak korban dapat mengajukan permohonan untuk mengajukan Gugatan ganti kerugian. Dan permohonan tersebut hanya dapat diajukan selambat-lambatnya sebelum Jaksa Penuntut Umum mengajukan tuntutan pidana. Selanjutnya berdasarkan pasal 98 ayat (1) KUHAP atas permohonan tersebut, Hakim Ketua Sidang dapat menetapkan untuk menggabungkan perkara gugatan ganti kerugian kepada perkara pidananya.


3. Pemeriksaan dan Putusan Gugatan Ganti Rugi.

Setelah pihak korban meminta penggabungan perkara gugatan Ganti rugi pada perkara pidana maka pihak pengadilan negeri menimbang tentang kewenangannya untuk mengadili gugatan tersebut, tentang kebenaran dasar gugatan dan tentang hukuman penggantian biaya yang telah dikeluarkan oleh pihak korban (Pasal 99 ayat 1 KUHAP). Selanjutnya apabila Majelis Hakim setelah memeriksa kemudian menerima gugatan tersebut maka putusan hakim hanya memuat tentang penetapan hukuman penggantian biaya yang telah dikeluarkan oleh korban (Pasal 99 ayat 2 KUHAP). Selanjutnya Putusan mengenai ganti kerugian dengan sendirinya akan mendapatkan kekuatan hukum tetap apabila putusan pidananya juga telah mendapat kekuatan hukum tetap (Pasal 99 ayat 3 KUHAP). Begitu juga apabila Putusan terhadap perkara pidana diajukan Banding maka Putusan Ganti rugi otomatis akan mengalami hal yang sama (Pasal 100 ayat 1 KUHAP). Namun apabila perkara pidana tidak diajukan banding maka permintaan banding mengenai putusan ganti rugi tidak diperkenankan banding (pasal 100 ayat 2 KUHAP). Ketentuan ini tentunya akan berindikasi dapat merugikan korban karena apabila putusan ganti rugi tidak sesuai dengan keinginan korban namun karena atas putusan perkara pidana tidak dimintakan banding oleh pihak pelaku maupun Jaksa Penuntut Umum maka pihak korban harus menerima putusan ganti rugi tersebut.


4. Pihak-pihak dalam Gugatan Ganti Rugi.

Dengan dikabulkannya penggabungan gugatan ganti rugi pada perkara pidana maka berdasarkan pasal 101 KUHAP, ketentuan dari aturan hukum acara perdatalah yang berlaku bagi pemeriksaan Gugatan ganti rugi. Dalam hukum acara perdata, yang disebut pihak-pihak dalam Gugatan ganti rugi adalah pihak Penggugat dan Tergugat. Pihak Penggugat adalah orang atau pihak-pihak yang mengajukan gugatan atas suatu perkara karena merasa hak-haknya telah dilanggar oleh seseorang, sedangkan pihak Tergugat adalah orang atau pihak-pihak yang digugat dan diajukan kemuka pengadilan karena diduga telah melanggar hak seseorang.


5. Prosedur Pengajuan Gugatan Ganti Rugi.

Berkaitan dengan hukum acara perdata, dalam pasal 118 HIR disebutkan Gugatan diajukan di Pengadilan Negeri di mana Tergugat (dalam hal ini Pelaku) berdomisili. Dengan ketentuan seperti ini dalam prakteknya akan ada kemungkinan kendala dikarenakan Pengadilan Negeri yang memeriksa perkara pidana tidak berwenang mengadili Gugatan. Ketidakwenangan Pengadilan Negeri ini disebabkan adanya perbedaan dasar hukum acara yang digunakan dalam perkara pidana dengan Gugatan ganti rugi. Berdasarkan hukum acara pidana, maka Pengadilan Negeri yang berwenang mengadili perkara pidana adalah tempat perkara pidana terjadi. Sehingga apabila tempat perkara pidana terjadi bukan di wilayah yang sama dengan domisili/tempat tinggal pelaku maka Gugatan ganti rugi tidak dapat diajukan di Pengadilan Negeri tempat perkara pidana diperiksa. Apabila Pengadilan Negeri tempat perkara pidana diperiksa tidak memiliki kewenangan memeriksa Gugatan ganti rugi maka Gugatan ganti rugi ditolak. Hal lain berkaitan dengan hukum acara perdata adalah kemungkinan Gugatan ganti rugi tidak dapat diterima apabila Penggugat tidak bisa membuktikan atau memenuhi unsur-unsur atau syarat-syarat yang terkait dengan isi atau substansi gugatan ganti rugi yang meliputi :

Harus ada unsur perbuatan melawan hukum seperti melanggar hak orang lain, bertentangan dengan kewajiban hukum sipelaku, bertentangan dengan kesusilaan yang baik, bertentangan dengan kepatutan serta keharusan yang harus diperhatikan dalam pergaulan masyarakat

Harus ada unsur kesalahan yang dilakukan oleh pelaku

Harus ada unsur kerugian yang ditimbulkan baik berupa kerugian materiil maupun kerugian imateriil

Harus ada unsur adanya hubungan kausal (sebab-akibat) antara perbuatan dan kerugian yang ditimbulkan sehingga pelaku dapat dimintai pertanggung jawabannya.

Adapun isi dari Gugatan Ganti Rugi tersebut adalah:

Identitas para pihak (Penggugat dan Tergugat) atau disebut juga persona standi in judicio, yang menerangkan nama, alamat, umur, pekerjaan para pihak.

Posita yang merupakan duduk perkara atau alasan-alasan mengajukan gugatan , menerangkan fakta hukum yang dijadikan dasar gugatan atau disebut juga dengan Fundamentum Petendi.

Tuntutan (petitum), yaitu hal-hal apa yang diinginkan atau diminta oleh penggugat agar diputuskan, ditetapkan atau diperintahkan oleh hakim (Pasal 178 ayat 3 HIR). Misalnya pada gugatan ganti rugi terhadap pelaku perkosaan, tuntutan yang diajukan adalah pembayaran sejumlah uang atas kerugian materil dan atau immateriil yang diderita korban perkosaan.

Sedangkan tahapan proses di persidangan jika Gugatan Ganti Rugi diajukan secara tersendiri adalah sebagai berikut:

Berdasarkan pasal 130 ayat 1 HIR, bahwa sebelum proses pemeriksaan perkara dimulai, hakim akan mencoba mendamaikan terlebih dahulu pihak-pihak yang bersengketa yaitu Penggugat dan Tergugat. Bila perdamaian terjadi maka dibuatkan akte damai dan persidangan selesai atau dihentikan, namun bila perdamaian tidak terjadi diantara Penggugat dan Tergugat, maka sidang dilanjutkan dengan Jawaban dari Tergugat;

Replik merupakan jawaban atau bantahan dari Penggugat atas jawaban dari Tergugat;

Duplik merupakan Jawaban atau bantahan dari Tergugat atas Replik Penggugat;

Pembuktian berupa alat bukti tertulis dan mendengarkan keterangan saksi;

Kesimpulan;

Pembacaan putusan hakim.

Sunday, July 31, 2016

5 Ciri Pria Brengsek

http://www.vemale.com/relationship/love/13693-5-ciri-pria-brengsek.html

Vemale.com - Ditinggal kekasih tanpa ada alasan jelas, dan pertengkaran itu rasanya seperti dunia mau runtuh. Apalagi jika Anda masih sayang. Aduh... salah apa coba?
Mungkin memang bukan salah Anda, karena kebetulan saja Anda bertemu dengan si pria brengsek. Agar kejadian ini tak terulang kembali, cermati ciri-ciri si pria brengsek berikut ini ya:

Dia doyan menginterogasi
Salah satu ciri pria brengsek adalah dia sangat terlihat peduli dan overprotective. Dia ingin tahu semua kegiatan Anda, ke mana Anda pergi, dengan siapa dan sok menunjukkan kepeduliannya. Padahal, ini demi melancarkan rencananya agar tak sampai kepergok Anda saat jalan dengan wanita lain.
Dia juga akan memanfaatkan hal ini untuk mengekang dan melarang-larang Anda melakukan berbagai kegiatan yang pernah Anda lakukan semasa single. Sampai-sampai sahabat-sahabat Anda saja jadi susah mengajak Anda hangout sekalipun girl's time.

Dia nggak pernah salah
Bagaimanapun saat Anda bertengkar dengannya, pada akhirnya ia selalu terlihat benar dan tak pernah salah. Ia pandai berbicara dan mengendalikan suasana. Sampai Anda berpikir bahwa ini memang salah Anda (padahal tidak).
Bagi dia, yang paling penting adalah Anda harus tunduk dan berada di bawah kontrolnya. Mengandalkan statusnya sebagai pria yang memang harus dihargai (hey, wake up ladies. Kita memang harus menghargai pria, tetapi kita juga berada sejajar dengannya!)

Dia makhluk yang misterius
Selama ini Anda yang selalu banyak bercerita, baik tentang masa lalu, keluarga, teman-teman. Ia selalu menghindar dengan cara khasnya saat tiba giliran ia bercerita. Jadi, sebenarnya Anda tak banyak tahu tentang detail dirinya. Kemisteriusan ini sengaja dibuatnya, dan terkadang memang terlihat sangat alami, sehingga Anda jadi mudah tertipu olehnya.

Dia hot di saat berdua, dan mendadak dingin di depan publik
Saat berduaan dengannya, ia akan menjadi sosok yang sangat (sok) perhatian. Berada dekat dengan Anda, menyentuh Anda secara fisik. Namun, saat berada di depan publik, ia jadi sok jaim. Alasannya, ia ingin Anda dihargai dan tidak terlihat murahan di depan semua orang. Jadi ia akan sok melindungi Anda dan menjaga jarak dengan Anda.

Komitmen bagi dia nomor sekian
Pria tipe ini umumnya kurang menghargai komitmen dan planning masa depan. Coba saja ajak dia berbincang dan membahas soal masa depan, ia akan berusaha menghindar dan bahkan marah. Buatnya komitmen adalah sesuatu yang membebani dan mengikat. Dengan alasan tidak siap dan takut tertekan ia akan mengulur waktu dan terus memanfaatkan hubungan Anda sebagai pengisi kesenggangan saja.
Jadi, ladies... apabila saat ini Anda berhubungan dengan tipe pria di atas, sebaiknya pikirkan kembali deh. Sayang kan kalau Anda sudah berusaha dan menghabiskan sekian banyak waktu tapi akhirnya justru Anda ditinggalkan?
(vem/bee)

Wednesday, June 29, 2016

Waspada! 12 Tanda Kekasih Anda Berpotensi Jadi Pelaku KDRT

http://wolipop.detik.com/read/2012/06/11/190742/1938450/852/waspada-12-tanda-kekasih-anda-berpotensi-jadi-pelaku-kdrt#


Jakarta - Tidak ada wanita manapun yang ingin terlibat dalam hubungan asmara yang menyiksa secara psikis maupun fisik. Namun seringkali keadaan tidak terjadi seperti yang diharapkan. Saat pendekatan, mungkin si pria bertingkah laku sangat baik, perhatian dan ramah. Tapi siapa sangka setelah resmi berpacaran, sifat aslinya yang suka menyiksa atau abuser perlahan-lahan terkuak.

Jangan sampai Anda menjadi korban kekerasan oleh kekasih sendiri dan terjebak dalam cinta yang menyiksa. Kenali tanda-tanda awal pria yang punya kecenderungan menyiksa, seperti dikutip dari Your Tango.

1. Mengikat secara emosional di awal hubungan. Baru beberapa minggu resmi pacaran, dia sudah mengklaim kuatnya hubungan kalian dengan kata-kata seperti, "Aku tidak pernah merasa dicintai oleh orang lain seperti kamu mencintaiku." Pada awalnya, mungkin terdengar manis dan romantis tapi yang tidak disadari, dengan mengungkapkan kalimat semacam itu dia ingin ada keterikatan 'eksklusif' sehingga Anda akan terbebani untuk selalu memperhatikan dirinya.

2. Kecemburuan yang Berlebihan. Pasangan baru Anda menunjukkan sikap posesif yang ekstrem, menelepon setiap hari dan tiap menit, atau datang ke rumah secara tak terduga.

3. Mencoba mengontrol kehidupan. Dia selalu menginterogasi hal-hal detail tentang siapa pria yang barusan berbicara akrab dengan Anda, memaksa agar Anda minta izin setiap ingin pergi ke luar atau melakukan sesuatu, sampai mengecek semua telepon, SMS atau BBM yang masuk ke ponsel Anda.

4. Ekspektasi yang tidak realistis. Pria yang mengharapkan Anda jadi orang yang sempurna dan bisa selalu memenuhi semua keinginannya, juga merupakan tanda-tanda seorang abuser.

5. Isolasi merupakan salah satu ciri seorang penyiksa. Dia mencoba membatasi komunikasi Anda dengan teman-teman, rekan kerja bahkan keluarga sendiri. Dalam tahap yang sudah parah, dia bisa menghalangi Anda untuk sukses di dalam karier maupun hubungan sosial.

6. Menyalahkan orang lain atas kesalahannya. Baik itu atasan, keluarga, teman atau kekasih, dia selalu menyalahkan orang lain jika keadaan tidak berjalan sesuai yang diharapkan.

7. Membuat setiap orang merasa bertanggung jawab terhadap apa yang dirasakannya. Ciri penyiksa yang lainnya, adalah menjadikan dia sebagai objek penderita, bukan pelaku. Contohnya, memilih kata-kata seperti, "Kamu sudah membuat aku marah" bukan dengan "Ya, aku marah". Atau contoh lainnya, "Aku tidak akan semarah ini jika kamu tidak..."

8. Hipersensitif. Ciri dari hipersensitif adalah mudah merasa terhina. Dia cenderung gampang menyuaraka ketidakadilan terhadap segala masalah yang menimpanya, sekecil apapun masalah itu.

9. Jahat terhadap binatang dan anak-anak. Dia tak segan membunuh atau melukai bintang secara brutal. Kepada anak-anak, seorang abuser suka meminta mereka melakukan sesuatu di luar kemampuannya, atau menggoda mereka sampai menangis.

10. Suka menghina. Penyiksaaan tak selalu dalam bentuk fisik, tapi juga secara verbal. Berhati-hatilah jika Anda memacari pria yang selalu mengritik apa yang Anda lakukan atau tak segan mengeluarkan sumpah serapah yang kasar.

11. Mood yang berubah-ubah. Suatu waktu, dia sangat sayang, perhatian dan menjaga Anda. Namun beberapa jam kemudian dia bisa menjadi orang yang pemarah dan membentak Anda di tempat umum.

12. Mengancam melakukan tindak kekerasan. Saat marah dia seringkali melontarkan ancaman seperti, "Lihat saja, aku akan mematahkan lehermu," tapi setelah itu ia langsung meralat ucapannya dengan mengatakan, "Percayalah, aku tidak bersungguh-sungguh mengatakannya."

(hst/hst)

Saturday, June 11, 2016

Tuesday, May 31, 2016

Mengapa saya menolak Perppu kebiri

Oleh: Shera Rindra M. Pringgodigdo
Sejak wacana mengenai pemberatan hukuman bagi pelaku kekerasan seksual bergulir, beberapa pihak menghubungi saya untuk menanyakan sikap terhadap rencana tersebut.
Saat itu, terbersit keraguan untuk menjawab pertanyaan tersebut karena khawatir jawaban yang saya berikan tidak sesuai dengan harapan mereka; mendukung dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) No. 1 tahun 2016 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, atau lebih dikenal dengan Perppu Kebiri. Mungkin mereka berharap bahwa saya sebagai salah seorang penyintas kekerasan seksual akan mendukung kebijakan tersebut.
Setelah membaca dengan seksama Perppu tersebut, sikap saya jelas: Menolak beberapa poin di dalamnya, khususnya terkait dengan pemberatan hukuman mati dan kebiri. Namun saya sepakat dengan penambahan hukuman seperti minimal 25 tahun penjara dan maksimal seumur hidup dengan tambahan rehabilitasi pelaku yang diwajibkan melakukan konseling untuk perubahan perilaku, cara berpikir, serta refleksi pada kejahatan yang telah dilakukannya.
Akses keadilan bagi korban
Saya bercermin dari pengalaman saat menjadi korban pemerkosaan belasan tahun yang lalu. Problem utama dari kasus-kasus kekerasan seksual adalah sistem dan proses hukumnya. Proses hukum kita sangat bermasalah, mulai dari aparat hukum yang tidak memiliki perspektif korban, layanan hukum yang tidak ramah, penanganan kasus yang memakan waktu lama dan berbelit-belit, ditambah lagi dengan kebijakan yang tidak memakai kacamata korban.
Mungkin saya adalah salah satu korban yang “beruntung” karena kasus yang saya alami mendapat perhatian dari publik dan mendapat dukungan dari banyak pihak. Proses yang sebelumnya membuat saya seolah menjadi korban kedua kalinya seketika menjadi “lebih” baik ketika berbagai tekanan datang kepada aparat penegak hukum.
Namun, bagaimana dengan para korban yang kasusnya luput dari perhatian publik dan tidak mendapatkan dukungan? Berapa banyak korban yang dilecehkan oleh pihak kepolisian saat melapor dengan menyalahkan mereka karena keluar malam, pakaiannya, atau lainnya?
Berapa banyak korban yang ditawarkan untuk menempuh “jalan damai” karena menganggap bahwa ini adalah aib bagi korban? Berapa banyak korban yang “diperkosa” untuk kesekian kalinya oleh hakim dengan mengajukan pertanyaan yang menyudutkan korban? Belum lagi media yang mengeksploitasi korban dengan menjadikan kasus kekerasan seksual yang dialaminya sebagai sensasi.
Berapa banyak pelaku yang ditangkap dan menjalani proses hukum? Berapa banyak pelaku yang dijerat dengan hukuman maksimal?
Sudah menjadi rahasia bersama bahwa banyak korban kekerasan seksual yang memilih untuk tidak meneruskan bahkan melaporkan kasus yang mereka alami karena tidak percaya pada sistem dan proses hukum di Indonesia.
Kenyataan inilah yang saya temui juga saat menjadi pendamping beberapa korban kekerasan seksual. Beranjak dari pengalaman tersebut, saya melihat persoalan sebenarnya dalam kasus kekerasan seksual adalah sistem dan proses hukum yang tidak ramah pada korban. Seberat apapun ancaman hukumannya, jika proses hukumnya masih sama, maka kondisinya tidak akan jauh berbeda.
Menurut CATAHU 2016 yang dikeluarkan oleh Komnas Perempuan, kasus kekerasan seksual yang terjadi di ranah personal sebanyak 3.325 kasus, sementara yang terjadi di ranah komunitas sebanyak 3.174 kasus.
Angka kekerasan seksual yang dikeluarkan oleh Komnas Perempuan setiap tahunnya, hanyalah angka yang terlaporkan. Itu berarti jumlah kasus kekerasan yang sesungguhnya jauh lebih besar dari yang dikumpulkan. Angka tersebut ibaratnya pucuk dari gunung es.

Jika masih melihat bahwa hukuman mati dan kebiri sebagai solusi, justru pemerintah sudah salah paham melihat persoalan kekerasan seksual.

Penyebab kekerasan seksual bukan sekadar soal nafsu birahi, bukan sekedar soal penis dan vagina semata, namun persoalan relasi kuasa; ada orang yang merasa memiliki hak untuk menyerang tubuh orang lain. Karena kekerasan seksual bisa dilakukan oleh siapa saja, kepada siapa saja, kapan saja, di mana saja, dan dengan cara apapun selain penetrasi penis.
Persoalan lain dari Perppu ini adalah secara spesifik hanya untuk menyasar kekerasan seksual yang dialami oleh anak. Bagaimana dengan korban kekerasan seksual yang sudah dewasa? Apakah mereka sebagai korban sedemikian tidak pentingnya untuk mendapatkan perhatian dari pemerintah?
Keadilan bagi siapa?
Presiden Joko Widodo mengesahkan Perppu Perlindungan Anak yang di dalamnya tercatat hukuman mati dan kebiri bagi pelaku pemerkosaan anak.

Presiden Joko Widodo mengesahkan Perppu Perlindungan Anak yang di dalamnya tercatat hukuman mati dan kebiri bagi pelaku pemerkosaan anak.
Ditebitkannya Perppu ini disambut oleh beberapa pihak sebagai panasea yang mampu mengurangi bahkan menghapus kekerasan seksual di negeri ini. Mereka lupa bahwa kekerasan seksual adalah problem yang sistemik. Tidak bisa hanya diselesaikan dengan kebijakan hukum yang dibuat hanya untuk menakuti, namun tidak untuk mencegah persoalan kekerasan seksual. Menurut saya, hukuman mati dan kebiri bukanlah hukuman yang tepat dan tidak memberikan efek jera.
Bangsa ini memiliki masalah yang lebih besar dalam persoalan kekerasan seksual. Dalam berbagai kasus, tidak sedikit orang yang masih mencari-cari kesalahan pada korban. Seakan-akan itu menjadi upaya sebagai pembenaran atas kekerasan seksual yang dialami oleh perempuan dan anak.
Jika tidak ditemukan “kesalahan” pada korban, maka hal lain dicari-cari juga sebagai pembenaran atas kekerasan yang dilakukan oleh pelaku. Seperti, misalnya, apakah si pelaku mabuk minum-minuman beralkohol, memakai narkoba, punya kelainan jiwa, atau punya sejarah sebagai korban kekerasan juga. Yang pada akhirnya ini membuat kita lupa fokus serta gagal melihat akar dari kekerasan seksual yang sesungguhnya.
Masyarakat dan pemerintah juga masih menganggap bahwa ketika pelaku sudah dijerat dengan hukuman, maka masalah bagi korban sudah selesai. Seolah melupakan bahwa korban akan menanggung beban dan trauma seumur hidupnya.
Bagaimana dengan pemulihan bagi korban? Bagaimana agar ia bisa menjadi seorang penyintas? Bagaimana korban menghadapi stigma yang diberikan oleh masyarakat? Seakan proses hukum yang tidak ramah pada korban itu sudah memberikan keadilan, sudah bisa membuat korban pulih dan melangkah maju dengan lega, atau sudah menyelesaikan problem kekerasan seksual secara keseluruhan.
Perppu ini, menurut saya, hanya “solusi instan” yang justru menggambarkan wajah sebagian masyarakat Indonesia, yang masih menganggap kekerasan adalah solusi untuk segalanya. Menyelesaikan kekerasan dengan kekerasan. Bagi saya, isi Perppu tersebut tidak memberikan “keadilan” bagi korban yang akan menghadapi trauma seumur hidupnya.
Sikap saya menolak Perppu ini tentunya akan mengundang banyak kritik bahkan hujatan seolah saya tidak dapat memahami penderitaan yang dihadapi oleh korban kekerasan seksual lainnya. Namun saya tetap percaya bahwa yang perlu dilakukan segera adalah perbaikan sistem dan proses hukum dalam penanganan kasus kekerasan seksual untuk menjamin bahwa mendapatkan akses keadilan bagi korban dapat terwujud.
Selain itu, pemerintah juga harus menjamin tersedianya layanan penanganan dan pemulihan bagi korban kekerasan seksual yang berkelanjutan. Peran masyarakat pun menjadi sangat penting untuk mendukung para korban dalam proses tersebut dengan tidak memberikan label negatif pada mereka.
Saya sebagai penyintas tidak mau memakai cara kekerasan dalam menyelesaikan persoalan kekerasan seksual. Saya sadar bahwa kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik dengan tidak melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh pelaku. Jika kita beranggapan bahwa kekerasan adalah solusi, maka kita akan berkontribusi dalam melanggengkan kekerasan. Perubahan tidak akan terwujud jika kita masih mengadopsi budaya dan pola pikir kekerasan. —Rappler.com

Monday, April 11, 2016

Hindari laki-laki seperti ini

http://keluarga.com/2069/keluarga/hindari-laki-laki-seperti-ini

Sayangnya tidak banyak wanita mendapat perlakukan yang pantas dari pasangannya. Mereka dicaci maki, mereka diperlakukan layaknya budak, mereka dipukul, ditampar, dan hal lain yang membuat hati kita miris mendengarnya.

Oleh: Yobel Hermanto

  • 1. Bersikap posesif

    Rasa ingin memiliki yang besar yang membuat dia bersikap sangat posesif. Dia akan berusaha untuk menghubungi Anda setiap saat tidak peduli Anda sedang sibuk. Dia juga menaruh rasa curiga seolah–olah Anda adalah orang yang tidak dapat dipercaya.
  • 2. Mulai membatasi hubungan sosial Anda

    Karena cemburu yang berlebihan tersebut dia akan berusaha untuk membatasi pergaulan Anda. Dengan siapa saja Anda oleh berbicara dan berinteraksi, mungkin juga dia akan selalu mengecek ponsel, email, dan media sosial lainnya untuk melihat apa saja yang Anda dan teman Anda bicarakan di dunia maya.
  • 3. Mengontrol kehidupan Anda

    Bukan hanya pertemanan yang dia atur tetapi juga kehidupan Anda. Dia akan berusaha untuk masuk ke dalam kehidupan Anda dan mulai untuk mengaturnya, mulai dari karier, studi, hubungan dengan keluarga dan lain sebagainya. Pria yang seperti ini terkesan seperti menganggap Anda seperti boneka yang bisa dimainkan dan dibuat sakit hati sesukanya.
  • 4. Ingin menang sendiri dan dia selalu benar

    Hal ini dapat Anda ketahui saat Anda sedang berkomunikasi atau berbicara dengan dia, apa komunikasi hanya berjalan satu arah atau dua arah? dan apakah dia mau mendengarkan pendapat Anda atau malah memutuskan segala sesuatu secara sepihak?
  • 5. Selalu meminta maaf jika melakukan kesalahan tetapi mengulanginya lagi

    Jika dia melakukan kesalahan, dia akan berusaha untuk meminta maaf dan berusaha untuk memperoleh pengampunan dari Anda. Tetapi sayangnya dia tidak sungkan untuk mengulangi perbuatan negatif tersebut dan meminta maaf kembali tanpa mau belajar untuk berhenti melakukan tindakan negatif kepada Anda.
  • 6. Emosi dan mood yang berubah–ubah

    Kadang dia sangat baik sekali dan perhatian tetapi kadang juga sangat emosional tanpa ada penyebab yang pasti. Hal ini yang membuat pria tersebut akan sulit untuk mengatur atau mengendalikan emosinya jika dia sudah mulai marah. Mungkin bukan lagi caki maki yang Anda dapatkan tetapi kekerasan fisik juga bisa terjadi
  • 7. Cenderung kasar saat berbicara

    Hal ini cukup sederhana untuk dikenali dengan melihat bagaimana dia berbicara dan memperlakukan orang terdekatnya. Jika dia berbicara kepada orangtuanya atau keluarganya yang lain cenderung kasar dan tidak sopan maka dapat ditebak apa yang akan terjadi kepada Anda.
  • 8. Sangat sensitif dan tidak mau disalahkan

    Karena memiliki emosi yang tidak mudah dikendalikan dia akan cenderung bersikap sensitif dan cepat marah. Bukan itu saja tetapi dia juga tidak suka disalahkan. Jika rencana yang dibuatnya tidak sesuai dengan harapannya dia akan cenderung untuk menuduh orang lain sebagai alasannya.
    Jika semua ciri–ciri ini ada dalam hubungan yang sedang Anda jalani, maka sebaiknya segera mengambil keputusan. Banyak wanita yang menganggap bahwa mereka akan bisa merubah sikap pasangannya jika mereka sudah menikah. Tetapi pada kenyataannya bukan tambah membaik malah lebih parah lagi sifatnya. Menikah bukan menjadi alasan untuk mengubah sikap seseorang, karena yang dapat merubah sifat dan karakter seseorang adalah diri mereka sendiri yang bersedia untuk merubahnya yang juga tidak terlepas dari campur tangan Tuhan. Oleh karena itu para wanita harus bisa berpikir secara logika ketimbang perasaannya jika ingin memutuskan untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih serius lagi.